Itu Sebabnya China Ogah-ogahan Tanggapi Minat Teheran Beli J-10, Agen Israel Bertebaran Menyusup ke Iran

kabarterkinionline.com

Itu Sebabnya China Ogah-ogahan Tanggapi Minat Teheran Beli J-10, Agen Israel Bertebaran Menyusup ke Iran. China memang antusias memasarkan J-10CE setelah sukses dipakai Pakistan sebagai negara eksportir pertama dalam perang melawan India, 7 Mei 2025.

Pada pertempuran udara itu, Angkatan Udara Pakistan (PAF) mengklaim mampu menjatuhkan enam pesawat tempur India, tiga di antaranya Rafale.

Insiden itu membuat J-10 naik daun dan reputasi Rafale sempat jatuh. Bahkan, Indonesia pun kemudian menyatakan tertarik membeli 42 unit J-10.

Namun, alih-alih segera menindaklanjuti minat pada J-10 menjadi kontrak, Indonesia kemudian malah menandatangani letter of Intent (LoI) dengan Prancis untuk menambah pesanan 24 Rafale.

Sebelumnya Indonesia sudah mematenkan kontrak untuk mengakuisisi 42 Rafale.

Beberapa negara juga tertarik membeli J-10 dan terbaru Iran menyatakan serius membeli 40 unit.

Menurut postingan blog di situs mikroblog China Sohu, Iran telah tertarik pada jet tempur China selama lebih dari satu dekade.

Kini, Iran semakin mendesak membutuhkan J-10, setelah upaya mendapatkan Su-35 dari Rusia mengalami kendala.

Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi perang lawan Israel yang sewaktu-waktu bisa pecah kembali.

Hanya saja, China yang sebelumnya antusias memasarkan J-10, kini justru tampak malas-malasan menanggapi keinginan Iran.

Sikap pemerintah China itu, menurut laporan eurasiantimes.com, 17 September 2025, juga didukung banyak pakar militer negara itu.

Para pakar militer China juga memperingatkan Teheran bahwa jet tempur tersebut tanpa jaringan pendukung tidak akan terlalu efektif melawan angkatan udara Israel yang tangguh.

Yang perlu dicatat, hingga saat ini, Pakistan tetap menjadi satu-satunya pelanggan J-10CE, meskipun jet tempur tersebut telah ditawarkan ke banyak negara, termasuk Bangladesh, Mesir, Indonesia, Arab Saudi, dan Azerbaijan.

Di balik sikap malas pemerintah China menjual J-10CE ke Iran itu, ternyata ada kecurigaan besar pada penyusupan agen Israel, Mossad, yang sudah menyebar ke Iran.

Respons setengah hati China terhadap tawaran Iran bermula dari beberapa faktor.

Pertama, seperti yang diklaim para pakar China di media sosial, “Iran disusupi (agen Israel) seperti saringan, dan China khawatir akan kebocoran teknologi.”

Lelucon yang beredar di militer China adalah, “Menjual jet tempur ke Iran seperti memberikan cetak biru kepada Israel.”

China menilai, badan intelijen Israel, Mossad, telah menyusup secara mendalam ke seluruh lapisan masyarakat Iran.

Ini dibuktikan oleh keberhasilan Israel berulang kali dalam pembunuhan para ilmuwan nuklir dan pemimpin militer di Iran.

Selama perang 12 hari pada bulan Juni 2025, Israel bahkan mengetahui lokasi sistem pertahanan udara Iran, dan sistem tersebut dihancurkan oleh agen-agen Israel yang bekerja di belakang garis musuh.

Meskipun beberapa teknologi penting pada pesawat J-10CE versi ekspor telah dilucuti, menjual pesawat itu ke Iran tetap rawan kebocoran kode radar dan parameter rudalnya yang bisa diserap Israel.

Itu akan menimbulkan ancaman signifikan terhadap keamanan nasional China.

Beijing khawatir, agen Mossad Iran bisa mengakses teknologi sensitif J-10CE yang kemudian dapat dibagikan kepada sekutu dekatnya, Amerika Serikat (AS).

Sebab itu, para pejabat China memberi tahu kepada Iran bahwa membeli J-10CE saja tidak akan banyak berpengaruh.

“Membeli jet tempur saja adalah pemborosan uang. Jika Anda meniru Rafale India dan bertempur sendirian, Anda hanya akan dikalahkan oleh Israel lagi. Pertempuran udara modern adalah ‘pertarungan sistem’, bukan ‘duel jet tempur satu lawan satu’,” demikian pernyataan salah satu pejabat tinggi China .

“Pakistan mampu melawan India berkat pesawat peringatan dini, tautan data, dan rudal pertahanan udara Hongqi-16 (HQ-16) yang dijual China dalam satu paket, lengkap dengan semua peralatan yang terhubung untuk pertempuran,” klaim postingan blog tersebut.

Radar berbasis darat Iran merupakan peninggalan Eropa dan Amerika kuno, sementara sistem peringatan dininya merupakan warisan Soviet, tanpa interoperabilitas.

Oleh karena itu, menurut para ahli China, yang benar-benar dibutuhkan Iran adalah memprioritaskan sistem pertahanan udara modern.

“Dari perspektif strategis, Iran sangat perlu meningkatkan kemampuan pertahanan udara dan antirudalnya, alih-alih hanya memperkuat kekuatan ofensif angkatan udaranya. Hanya dengan meningkatkan sistem pertahanan udaranya, Iran dapat merespons serangan udara dan rudal Israel secara lebih efektif.”

Ia menyarankan bahwa untuk menghadapi jet tempur siluman F-35 Israel, Iran perlu membeli radar anti-siluman gelombang meter China yang sudah mampu mendeteksi pergerakan jet tempur F-35 AS.

Hanya dengan sistem pertahanan udara terintegrasi, tautan data, rudal pertahanan udara, radar, sistem komando informasi, dan sistem peperangan elektronik, jet tempur Iran dapat mencapai efektivitas maksimum.

China khawatir bahwa tanpa “rantai pembunuh” yang rumit dan berlapis-lapis yang diperlukan untuk menghadapi Angkatan Udara Israel yang canggih, yang terdiri dari F-35, F-15, dan F-16, pesawat tempur J-10CE akan menjadi seperti ‘bebek duduk’.

“Pendekatan yang benar-benar cerdas adalah mengikuti saran China, yakni pertama-tama perkenalkan radar anti-siluman yang sesungguhnya dan bangun kemampuan deteksi yang efektif untuk pesawat tempur siluman di dekat fasilitas-fasilitas utama,” demikian pernyataan pakar China.

“Hanya setelah perlindungan dasar terhadap fasilitas-fasilitas penting Iran, pangkalan angkatan udara, dan target-target lainnya tercapai, kita dapat berbicara tentang pengenalan lebih lanjut jet tempur canggih, pesawat peringatan dini dengan kemampuan anti-siluman, dan sistem tempur udara lainnya,” lanjutnya.

Kombinasi faktor-faktor ini yang menyebabkan China bersikap dingin merespons minat Iran untuk membeli jet tempur J-10CE.

Beijing justru memperingatkan Teheran dan menyarankan agar Iran berinvestasi terlebih dahulu dalam teknologi anti-wilayah seperti sistem pertahanan udara modern dan radar anti-siluman.

Baru setelah itu jet tempur J-10CE dapat memberikan dampak. Pesawat tempur generasi 4,5 buatan China, J-10. China tak terlalu merespons minat Iran untuk membeli J-10, karena menilai agen Israel sudah banyak yang menyusup ke negara itu. Menjual J-10 ke Iran sama saja menyerahkan teknologi ke Israel dan AS.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *