kabarterkinionline.com
Penyebab Utama dan Upaya Perbaikannya, Kondisi Jalan Tol di Sumsel Disorot, Sejumlah ruas jalan tol di Sumatera Selatan kembali menjadi perhatian publik.
Beberapa segmen yang tergabung dalam jaringan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS)) dilaporkan mengalami penurunan kualitas, mulai dari permukaan bergelombang hingga munculnya lubang di titik-titik tertentu yang tergolong strategis.
Keluhan pengguna jalan ini bukan tanpa dasar. Karakter wilayah Sumatera Selatan yang unik menjadikan pembangunan dan pemeliharaan jalan tol memiliki tantangan tersendiri dibandingkan daerah lain di Indonesia.
Sebagian besar ruas tol di Sumsel, termasuk koridor Kayuagung–Palembang–Betung, dibangun di atas lahan rawa dan tanah gambut yang memiliki kandungan air tinggi. Kondisi ini menyebabkan proses penurunan tanah berlangsung secara alami dan memerlukan waktu panjang.
Meski telah menggunakan metode pemadatan modern seperti vacuum consolidation, pergerakan tanah di bawah permukaan tetap sulit dihindari. Dampaknya, lapisan perkerasan jalan di atasnya berpotensi mengalami retak hingga penurunan kualitas struktur.
Selain faktor tanah, cuaca ekstrem juga berpengaruh besar terhadap kondisi jalan tol di Sumsel. Intensitas hujan yang tinggi membuat sistem drainase bekerja ekstra untuk mengalirkan air dari badan jalan.
Apabila aliran air tidak berjalan optimal, air hujan dapat meresap ke dalam lapisan aspal dan melemahkan daya rekat material. Dalam jangka waktu tertentu, kondisi ini memicu pengelupasan aspal dan munculnya lubang, terutama di jalur yang sering dilalui kendaraan berat.
Jalan tol di Sumatera Selatan menjadi jalur utama distribusi logistik antardaerah. Truk pengangkut batubara, kelapa sawit, dan karet mendominasi arus lalu lintas harian.
Permasalahan muncul ketika kendaraan melintas dengan muatan melebihi batas ketentuan atau dikenal sebagai Over Dimension Over Loading (ODOL).
Beban berlebih ini memberikan tekanan tinggi pada struktur jalan dan secara signifikan mempercepat kerusakan. Secara teknis, dampak ODOL dapat mempersingkat usia jalan jauh di bawah perencanaan awal.
Menanggapi kondisi tersebut, pengelola jalan tol terus melakukan langkah perbaikan berkelanjutan. Perawatan rutin seperti pelapisan ulang aspal dan perbaikan di titik-titik rusak dilakukan secara berkala untuk menjaga keselamatan pengguna jalan.
Selain itu, pemasangan sistem Weigh-in-Motion (WIM) mulai diterapkan untuk memantau kendaraan bermuatan berlebih tanpa harus menghentikan arus lalu lintas.
Di beberapa ruas dengan kondisi tanah sangat lunak, perkerasan beton juga digunakan sebagai solusi jangka panjang karena dinilai lebih tahan terhadap beban berat.
Kondisi jalan tol di Sumsel mencerminkan kompleksitas pembangunan infrastruktur di wilayah lahan basah.
Perawatan yang konsisten, pengawasan ketat terhadap muatan kendaraan, serta kesadaran pengguna jalan menjadi kunci agar jalan tol tetap aman, nyaman, dan berfungsi optimal dalam mendukung konektivitas dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Penyebab Utama dan Upaya Perbaikannya, Kondisi Jalan Tol di Sumsel Disorot







