Pulau Kemaro Menyedot Wisatawan Dalam dan Luar Negeri

kabarterkinionline.com

Pulau Kemaro menyedot Wisatawan dalam dan Luar Negeri. Lagi, Polemik kepemilikan lahan Pulau Kemaro menjadi sorotan publik Kota Palembang.

Kini, di tengah upaya Pemerintah Kota Palembang mengembangkan kawasan Pulau Kemaro menjadi destinasi wisata unggulan berbasis sejarah dan religi, ‘klaim’ kepemilikan lahan dari ahli waris Ki Marogan kembali mengemuka.

Beberapa tahun sebelumnya, klaim juga pernah dikukakan. Apa Respon Pemkot Palembang?

Wakil Wali Kota Palembang, Prima Salam, secara tegas menyatakan komitmen pemerintah untuk menyelesaikan polemik ini secara damai dan berkeadilan.

Hal itu diungkapkan Wawako Pruma Salam  dalam audiensi yang berlangsung di Ruang Rapat II Setda Kota Palembang.

Dalam pertemuan tersebut, Prima salam membuka ruang dialog yang luas antara Pemerintah Kota Palembang dengan para zuriat atau keturunan dari Ki Marogan.

Tujuannya tak lain adalah untuk mencari solusi terbaik yang menguntungkan semua pihak, tanpa mengabaikan aspek sejarah, budaya, dan syariat Islam yang melekat kuat di kawasan Pulau Kemaro tersebut.

“Kita ingin duduk bersama, membangun niat baik, dan mencari jalan keluar terbaik. Kalau memang benar lahan itu milik Zuriat Ki Marogan, kita bicarakan opsi wakaf produktif. Jangan sampai ada konflik berkepanjangan yang merugikan masyarakat luas,” ujar Prima Salam.

Wawako menegaskan Pemerintah Kota Palembang berharap masalah sengketa Pulau Kemaro  ini segera menemukan titik terang.

Selain untuk menjaga ketentraman masyarakat, penyelesaian polemik Pulau Kemaro ini diharapkan bisa menjadi momentum untuk memperkuat identitas budaya dan religi Kota Palembang.

“Kalau semua pihak bersatu, saya yakin Pulau Kemaro bisa menjadi destinasi wisata unggulan berbasis sejarah dan syariah yang membanggakan kita semua,” tutup Prima.

Sementara itu, perwakilan dari Zuriat Ki Marogan, Memet Ahmad, menyampaikan dukungan terhadap pengembangan Pulau Kemaro sebagai kawasan wisata religi.

Namun, ia menegaskan bahwa pengembangan harus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dan tidak semata-mata berorientasi komersial.

“Kami bukan menuntut ganti rugi atau jual-beli. Kami hanya ingin pembangunan yang ada syiar Islamnya. Pulau Kemaro itu warisan ulama besar, dan kami siap mewakafkan untuk kepentingan umat,” kata Memet.

Memet juga mengusulkan agar pengelolaan lahan Pulau Kemaro dilakukan secara bersama, melibatkan Pemerintah Kota Palembang, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Badan Wakaf Indonesia (BWI) sebagai nazir atau pengelola wakaf.

Pulau Kemaro: Delta Bersejarah di Tengah Sungai Musi

Pulau Kemaro sendiri merupakan sebuah delta kecil yang terletak di Sungai Musi, sekitar 6 kilometer dari Jembatan Ampera, ikon utama Kota Palembang.

Pulau Kemaro  ini secara administratif berada di wilayah 1 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Kota Palembang, Sumatera Selatan.

Dengan luas sekitar 79 hektare dan ketinggian 5 meter di atas permukaan laut, Pulau Kemaro dikenal sebagai “Pulau Kemarau.

Artinya pulau yang tidak pernah tenggelam meski Sungai Musi sedang pasang..

Pulau ini menyimpan pesona alam yang indah.  Dan menjadi simbol perpaduan budaya Tionghoa dan Palembang.

Namun, tak banyak yang tahu bahwa Pulau Kemaro memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan perkembangan Islam di Palembang. Pulau ini pernah menjadi pos penjagaan penting sejak era Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Palembang.

Bahkan, Panglima Cheng Ho, pelaut legendaris dari Tiongkok, tercatat pernah menetap di Pulau Kemaro dalam misinya menumpas perompak laut asal negeri Tirai Bambu.

Pada masa Kerajaan Palembang, Pulau Kemaro dikenal sebagai Benteng Tambak Bayo, benteng pertahanan yang menjadi pintu gerbang utama sebelum kapal-kapal masuk ke pusat Kota Palembang.

Kapal-kapal yang melintasi Sungai Musi kala itu wajib melewati dan mendapat izin dari pos benteng ini, menegaskan pentingnya Pulau Kemaro dalam strategi pertahanan kerajaan.

Wisata Berbasis Sejarah dan Religi

Keunikan legenda putri Sriwijaya, kehadiran klenteng, serta jejak dakwah Islam dari Ki Marogan dan ulama lainnya menjadikan Pulau Kemaro sebagai simbol harmoni antar budaya.

Pemerintah Kota Palembang melihat peluang besar untuk mengembangkan kawasan ini, bukan hanya sebagai objek wisata komersial.

Pulau Kemaro  juga sebagai pusat edukasi sejarah dan religi, sejalan dengan identitas Kota Palembang sebagai kota religius dan berbudaya.

Pplenyelesaian masalah kepemilikan lahan Pulau kemaro menjadi kunci utama.

Komitmen pemerintah untuk membuka ruang dialog dan menjajaki opsi wakaf produktif diharapkan dapat menjadi solusi damai.

Tentunya  tanpa mengabaikan hak-hak zuriat Ki Marogan yang telah berkontribusi besar dalam sejarah Islam di Palembang.

Pulau Kemaro adalah cerminan kekayaan sejarah Palembang. Dengan pengelolaan yang baik, kawasan ini bisa menjadi contoh harmoni budaya, wisata, dan religiusitas yang saling menguatkan.

 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *