kabarterkinionline.com
Sepanjang Tahun 2026, Pemkot Palembang Siapkan 135 Agenda Wisata. Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) menyiapkan 135 agenda wisata sepanjang tahun 2026. Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang, M, Irman mengatakan sebanyak 135 agenda itu bertujuan untuk menarik kunjungan wisatawan yang ditargetkan berjumlah 2,3 juta wisatawan baik domestik maupun internasional.
Menurutnya, dengan banyaknya jumlah kunjungan wisatawan akan mampu mendongkrak perekonomian Kota Palembang, yang ditargetkan dari sektor pariwisata sebanyak Rp366 miliar. “Datanya apabila wisatawan berkunjung ke Palembang, selama dua hari tiga malam, akan menghabiskan Rp2,3 juta untuk satu wisatawan tentu ini merupakan perputaran perekonomian yang baik,” katan Irman seperti dilansir dari Antara, Rabu (12/11/2025).
Ia menambahkan dari 135 Charming Events of Palembang 2026, terdapat 10 agenda unggulan, termasuk beberapa yang baru seperti Festival Pesona UMKM 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Juni 2026.
Adapun 10 agenda unggulan yakni Festival Perahu Bidar Tradisional, Festival Sriwijaya, Ampera Tourism Run, Ziarah Kubro, Cap Go Meh Pulau Kemaro, Gemilang Palembang Raya, Sriwijaya Lantern Festival, Pemilihan Bujang Gadis Palembang, Festival Kuliner Halal Nusantara, dan Festival Pesona UMKM. “Dua di antaranya bahkan masuk nominasi Karisma Event Nusantara 2026 oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, yaitu Festival Perahu Bidar Tradisional dan Festival Sriwijaya,” jelasnya.
Melalui peluncuran Charming Events of Palembang 2026 ini, ia berharap adanya sinergi dan kolaborasi dari seluruh pihak untuk memperkuat sektor pariwisata di Palembang. “Kami mengajak masyarakat turut berperan dalam membangun citra positif Kota Palembang,” kata Irman.
Festival Perahu Bidar Tradisional sudah menjadi agenda wisata tahunan di Kota Palembang. Keberadaan perahu bidar di Kota Palembang pun punya sejarah tersendiri. Catatan awal menunjukkan bahwa sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam (abad ke-17 hingga awal abad ke-19), bidar sudah dikenal.
Pada masa itu, bidar bukanlah sekadar perahu biasa, melainkan perahu kehormatan yang digunakan sultan dan bangsawan untuk berlayar di Sungai Musi dan patroli keamanan. Kata bidar sendiri kemungkinan berasal dari istilah Melayu yang berarti perahu panjang ramping, dibuat khusus untuk melaju cepat di sungai. Fungsinya bukan hanya alat transportasi, melainkan juga simbol prestise politik dan kebesaran istana.
Perahu bidar kerajaan biasanya dihiasi ornamen ukiran dan warna khas yang memperlihatkan status pemiliknya. Tradisi melombakan bidar diperkirakan mulai muncul lebih luas sejak abad ke-19, terutama pada masa kolonial Belanda dalam rangka memperingati hari ulang tahun Ratu Wilhemina.
“Pada perayaan-perayaan besar lainnya, Pasca Kemerdekaan masyarakat mulai menggelar lomba bidar sebagai hiburan rakyat, lomba bidar menjadi agenda rutin tahunan, terutama ketika memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia,” ujar Budayawan Palembang, Kemas A.R. Panji. Bidar pada masa Kesultanan abad ke 17-18, hanya dimiliki oleh bangsawan, sultan dan pejabat istana.
Pada masa kolonial, bidar menjadi hiburan masyarakat tepian sungai Musi. Mereka membuat versi sendiri, meski tidak seindah bidar milik kerajaan. Masa awal kemerdekaan (abad ke-20), lomba bidar menjadi tradisi tahunan, terutama di Sungai Musi, sebagai bentuk perayaan 17 Agustus dan pesta rakyat. Bidar semakin populer dan menjadi olahraga air tradisional.







