Kabarterkinionline.com
Tapi Apa yang Terjadi di Lapangan? MBG dan Koperasi Merah Putih Digelontor Triliunan Rupiah, Sinergi MBG & Koperasi Merah Putih, Sumber: Dokumentasi pribadi Merza Gamal diolah dengan Generative AI.
Di Tengah Anggaran Fantastis, Publik Menanti Bukti Nyata. Triliunan rupiah bukan angka kecil. Ia adalah amanah. Ia adalah harapan yang dititipkan rakyat kepada negara.
Ketika pemerintah menggulirkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih (KMP) dengan dukungan anggaran besar dari APBN, publik tentu berharap lebih dari sekadar seremoni peluncuran, baliho besar, dan angka-angka impresif dalam konferensi pers.
Namun selalu ada satu pertanyaan sederhana yang sering lebih jujur daripada pidato panjang:
apa yang sungguh-sungguh terjadi di lapangan?
Apakah makanan benar-benar tersaji tepat waktu dan tepat sasaran?
Apakah koperasi benar-benar hidup dan memberdayakan anggota?
Ataukah program ini masih mencari bentuk di tengah birokrasi yang belum sepenuhnya siap?
Secara konsep, Makan Bergizi Gratis adalah gagasan mulia. Memberikan asupan bergizi kepada anak-anak sekolah bukan hanya soal makan siang. Ini soal investasi jangka panjang pada kualitas sumber daya manusia, soal mencegah stunting, soal menyiapkan generasi emas Indonesia.
Demikian pula Koperasi Merah Putih. Ia diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi rakyat, memperkuat UMKM, dan menghidupkan kembali semangat gotong royong dalam sistem ekonomi kerakyatan.
Namun dalam praktik, kebijakan besar selalu berhadapan dengan realitas yang tak sesederhana konsep di atas kertas.
Distribusi logistik yang tidak merata.Kesiapan dapur dan penyedia lokal yang belum seragam.
Pengawasan yang masih bertahap.Sumber daya manusia koperasi yang belum seluruhnya profesional.
Semua itu bukan tudingan, tetapi fakta lapangan yang perlu dikelola dengan jujur.
Program dengan anggaran triliunan rupiah menuntut tata kelola yang presisi. Transparansi anggaran, sistem monitoring yang real time, audit berkala, dan pelibatan masyarakat menjadi elemen krusial.
Tanpa pengawasan yang kuat, program sebaik apa pun berisiko tersendat. Tanpa data yang terbuka, publik mudah terjebak pada dua ekstrem: euforia berlebihan atau skeptisisme total.
Padahal yang dibutuhkan adalah evaluasi objektif.






