kabarterkinionline.com
Tapi Menyetir Jeep Komando, Ketika Wali Kota Palembang Tidak Sekadar Hadir. Pawai Pertempuran Limna Hari Lima Malam (P5H5M) selalu menyedot perhatian. Namun tahun ini ada satu detail yang membuatnya berbeda: Jeep yang ditumpangi Wali Kota tak berhenti sebagai simbol, tapi bergerak sebagai sikap.
Awalnya, kendaraan itu dikemudikan oleh Ketua Komunitas Jeep Palembang, Iwan Darmawan , Ketua Komunitas Jeep Palembang (KJP) yang juga mantan Ketua DPRD Palembang. Namun di separuh perjalanan, terjadi pergantian yang spontan namun sarat makna. Ratu Dewa turun dari kursi penumpang, berpindah ke kursi pengemudi, lalu melanjutkan perjalanan hingga garis akhir di Lawang Borotan.
Empat orang termasuk Walikota di dalam mobil Jeep itu menjadi komando Utama selama pawai. mengiringi puluhan pengendara ontel yang ada di barisan depan.
SMB IV RM Fauwass Diraja, Vebri Al Lintani berada di bangku belakang menjadi saksi pergantian ‘pilot’ jeep. Dan diceritakan oleh Ketua Pelaksana P5HPM Vebri Al Lintani saat sambutan pembukaaan di Lawang Borotan usai pawai.
Tak ada protokoler berlebihan. Tak ada jarak. Yang ada hanya seorang pemimpin yang memilih menyatu dengan denyut peringatan, bukan berdiri di atasnya.
Jeep, kendaraan yang identik dengan perang dan perjuangan, hari itu kembali menemukan rohnya.
Sejarah yang Dibuka dengan Doa, Dihidupkan oleh Jalan
Peringatan P5H5M tidak dimulai dengan sirene atau tembakan teatrikal, melainkan dengan hening dan doa.
Ratib saman di Gedung Kesenian Palembang menjadi pembuka, seolah mengingatkan bahwa perjuangan selalu memiliki sisi spiritual yang sunyi namun kuat.
Keesokan harinya, di Simpang Lima DPRD Sumsel, ratusan Telok Abang dibagikan. Angkanya bukan kebetulan: 329, usia Benteng Kuto Besak—benteng yang lebih dari sekadar bangunan, melainkan saksi hidup perlawanan Palembang.
Sejarah tidak dipaku di monumen.Ia berjalan, dibagikan, dan dirayakan.
Lawang Borotan: Titik Temu Ingatan dan Masa Kini
Di Lawang Borotan, peringatan mencapai puncaknya. Para tokoh hadir bukan sebagai hiasan, tetapi sebagai penjaga narasi: Sultan Palembang Darussalam Sultan Mahmud Badaruddin IV, Dewan Kesenian Palembang, LVRI, sejarawan, budayawan, seniman, hingga kreator konten.
Namun yang paling terasa justru keragaman komunitas:
Jeep, sepeda ontel, seni pertunjukan, pantomim, kuntau, UMKM, hingga warga yang datang tanpa undangan.
P5H5M terasa seperti hajatan kota, bukan agenda birokrasi. Tali asih bagi veteran, disampaikan langsung oleh Ratu Dewa. Dan terungkap juga, melalui sambutan Vebri Al Lintani, kalau almarhum ayah sang Walikota juga Ketua Legiun Veteran di Muara Kuang, Ogan Ilir.
“Ternyata, orang tua Pak Wali juga pejuang. Wajar, kalau menurun darah juangnya ke putranya,” papar Vebri sembari melanjutkan, sama dengan mantan Ketua DPRD Kita Kando Iwan Darmawan yang anak kolong dan memimpin FKPPI.
Seni, Tubuh, dan Jalan sebagai Bahasa Perlawanan
Tak ada ceramah panjang yang membosankan.
Sejarah diterjemahkan lewat gerak, ekspresi, dan bunyi. Sanggar Blok E Art, Palembang Mime Club di Bawah binaan Dewan Kesenian Palembang memadukan ekspresi dan cerita di pelataran Lamang Borotan. Sebelumnya kuda-kuda dan Langkah gerak kuntau juga menjadi hiburan tersendiri Bersama penampilan korp music Dinas Kebudayaan Palembang,
Teatrikal, pantomim, musik korp kebudayaan, hingga kuntau Palembang menyampaikan satu pesan yang sama:
bahwa perlawanan tidak selalu bersuara keras, tapi selalu bermakna dalam. Nama Kapten A. Rivai kembali diucapkan. Bukan sebagai legenda kosong, melainkan sebagai pengingat bahwa kemerdekaan Palembang dibayar dengan nyawa dan keberanian.
Swadaya: Cara Palembang Merawat Ingatannya
Tidak ada anggaran raksasa. Tidak ada proyek mercusuar.
P5H5M tumbuh dari iuran, gotong royong, dan kesadaran kolektif. Dari belasan juta rupiah di tahun pertama, meningkat perlahan, dibantu oleh logistik, tenaga, makanan, dan ide—hal-hal yang tak pernah tercatat di neraca keuangan, tapi menentukan keberlangsungan sejarah.Lebih dari 50 komunitas terlibat.
Bukan karena diwajibkan.
Melainkan karena merasa memiliki.
Dari Pinggir Sejarah Menuju Hak untuk Diingat
Selama puluhan tahun, narasi nasional lebih akrab dengan Surabaya, Bandung, atau Ambarawa. Palembang sering berada di tepi halaman buku sejarah.
Melalui P5H5M, kota ini mulai berbicara dengan caranya sendiri:
lewat jalanan, seni, komunitas, dan bahkan melalui setir Jeep yang dikemudikan langsung oleh walikotanya.
Ini bukan romantisme masa lalu.
Ini adalah klaim atas ingatan nasional.
Karena kota yang menjaga sejarahnya bersama-sama, sedang menyiapkan masa depannya dengan lebih sadar.
Dan di Palembang, sejarah itu—sekali lagi—turun ke jalan.
Peringatan yang digelar di Lawang Borotan menjadi lebih bermakna karena dihadiri juga Kepala BPK Wilayah VI diwakili Wanda Lesmana, Kepala Dinas Kebudayaan Kgs M Sulaiman Amin, Kepala Dinas Pendidikan M Affan Prapanca, Ketua Dewan Kesenian Palembang M. Nasir, Ketua LVRI Sumsel Ramses, Ketua KKPP kgs M Riduan, Fi Azwar driKobar 9, serta berbagai tokoh lainnya.
Hadir pula sejarawan Kemas Ari Panji dan Dr Dedi Irwanto, budayawan dan seniman kota Palembang, serta konten kreator Mang Dayat selaku Ketua Tim 11.
Dari unsur komunitas, keterlibatan datang dari Komunitas Jeep Palembang, komunitas sepeda ontel, komunitas seni pertunjukan, hingga pelaku UMKM. Dukungan juga mengalir dari pelaku usaha lokal seperti Bakso Granat Mas Azis (BGMA) melalui Abdul Azis.






