Kabarterkinionline.com
Herman Deru Optimistis Harga Tetap Stabil, Inflasi Sumsel 3,33 Persen. Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, menegaskan tidak ada alasan bagi Provinsi Sumatera Selatan mengalami lonjakan inflasi selama Ramadan 1447 Hijriah hingga Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah. Pemerintah daerah, katanya, telah menyiapkan langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok masyarakat.
Penegasan tersebut disampaikan Herman Deru saat membuka Rapat Koordinasi dan High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang digelar di Wyndham Opi Hotel Palembang, Selasa sore (24/2/2026).
Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono, para bupati dan wali kota se-Sumsel, perwakilan instansi vertikal, BUMN, BUMD, aparat penegak hukum, hingga Satgas Pangan.
Dalam arahannya, Herman Deru menekankan bahwa pengendalian inflasi menjelang hari besar keagamaan merupakan isu krusial yang harus ditangani secara serius dan kolaboratif. Ia menyoroti pola tahunan yang kerap berulang, yakni meningkatnya permintaan masyarakat yang berdampak pada kenaikan harga sejumlah komoditas.
“Secara logika, saat puasa kebutuhan mestinya berkurang. Namun faktanya konsumsi justru meningkat, terutama saat berbuka puasa. Ini sudah menjadi pola tahunan yang memicu tekanan harga,” ujarnya.
Meski demikian, ia memastikan kondisi inflasi Sumsel masih dalam kategori terkendali. Inflasi tahunan tercatat berada di angka 3,33 persen, naik dari sebelumnya 2,91 persen. Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan rata-rata inflasi nasional yang mencapai 3,55 persen.
Menurut Herman Deru, fluktuasi harga umumnya terjadi akibat ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan. Karena itu, ia meminta pemerintah kabupaten/kota tidak hanya fokus pada intervensi pasokan, tetapi juga aktif mengedukasi masyarakat agar berbelanja secara bijak dan tidak melakukan panic buying.
Gubernur juga menegaskan pentingnya pengawasan terhadap distributor dan pelaku usaha agar tidak mengambil keuntungan berlebihan saat permintaan meningkat. Peran Satgas Pangan dan aparat penegak hukum dinilai vital untuk mencegah praktik spekulasi.
“Pastikan tidak ada spekulan yang memanfaatkan momentum Ramadan dan Idulfitri untuk meraup keuntungan yang merugikan masyarakat,” tegasnya.
Ia menginstruksikan seluruh kepala daerah dan organisasi perangkat daerah (OPD) untuk rutin turun ke pasar. Namun, ia mengingatkan agar kegiatan tersebut tidak sekadar bersifat seremonial.
“Turun ke pasar bukan untuk sekadar foto-foto. Pastikan ketersediaan barang aman dan harga tetap stabil. Ini kerja nyata yang harus dilakukan bersama,” katanya.
Herman Deru optimistis Sumatera Selatan mampu menjaga stabilitas harga. Secara fundamental, daerah ini memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari ketersediaan lahan produksi, kelancaran distribusi, hingga situasi keamanan yang relatif kondusif.
“Sumsel tidak punya alasan untuk mengalami inflasi tinggi. Yang dibutuhkan adalah strategi pengelolaan pasar yang tepat dan konsisten,” tambahnya.
Sementara itu, Bambang Pramono mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian, dengan proyeksi pertumbuhan dunia sekitar 3,2 persen. Di tingkat nasional, ekonomi Indonesia diperkirakan tetap tumbuh di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen, ditopang konsumsi domestik dan investasi.
Untuk Sumatera Selatan, pertumbuhan ekonomi dinilai cukup solid. Namun, tantangan terbesar ke depan adalah menjaga laju inflasi agar tidak melonjak signifikan, khususnya selama periode Ramadan dan Idulfitri.
Bank Indonesia memproyeksikan tekanan inflasi masih berpotensi terjadi dalam beberapa bulan mendatang, meski bersifat sementara. Evaluasi menunjukkan operasi pasar terbukti efektif menahan kenaikan harga, terutama jika diperkuat dengan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) guna memastikan kelancaran pasokan.
Dengan sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, aparat penegak hukum, dan pelaku usaha, Sumatera Selatan diyakini mampu menjaga stabilitas harga serta daya beli masyarakat selama momen keagamaan tersebut.






