Kabarterkinionline.com
Ada Rumah Sakit hingga Pelita Air, Pertamina Bakal Lepas 38 Anak Usaha. PT Pertamina (Persero) bakal lepas 38 anak usaha yang tidak bergerak di bisnis minyak dan gas (migas) pada tahun ini. Langkah ini merupakan bagian dari program streamlining atau penataan bisnis di Pertamina.
Direktur Transformasi dan Kelanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono mengatakan dari 38 perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang bergerak di bisnis perhotelan, rumah sakit, maskapai hingga asuransi.
Agung mengatakan nantinya bisnis rumah sakit yang dimiliki Pertamina yang selama ini dikelola oleh Indonesia Healthcare Corporation (IHC) kemungkinan akan dikelola langsung oleh Danantara.
“Di tahun ini ada 38 lagi pipeline, termasuk sekitar 12 perusahaan yang tergabung dalam grup rumah sakit IHC. IHC ini kita sudah dengan Danantara mencapai kesepakatan terkait value-nya berapa, dan ini nanti akan dilanjutkan prosesnya, sehingga sekitar 38 plus rumah sakit ini yang sudah kita siapkan,” ujar Agung di kawasan Terminal Tanjung Sekong di Cilegon, Banten, Rabu (11/2/2026).
“Tapi sekali lagi, kita siap dari Danantara, kalau nanti ada arahan lebih lanjut kita akan jalankan,” sambungnya.
Penggabungan bisnis maskapai Pelita Air kepada Garuda Indonesia masuk dalam rencana yang bakal dilakukan tahun ini. Hal ini juga sudah masuk dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) PT Danantara Asset Management.
“Pelita salah satunya, hotel-hotel salah satunya bagian dari Patra Jasa, hotel-hotelnya saja sedang dibahas dengan grup Danantara yaitu Hotel Indonesia Nature di bawah Injourney untuk sekarang dengan operatorship dulu hotelnya, tapi nanti kemudian kita akan lakukan juga prosesnya,” terang Agung.
Kemudian unit bisnis yang akan dilepas Pertamina yakni di bisnis asuransi yakni PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU). Agung mengatakan proses pemisahan ini sedang dilakukan pembahasan dengan Indonesia Financial Group (IFG).
“Satu lagi adalah asuransi, kita punya TUGU dibahas dengan IFG. Tapi kita juga ingin pastikan asuransi ini tetap mensupport migas karena ini penting sekali untuk peningkatan resiko,” jelas Agung.
Agung menambahkan, dari 257 perusahaan yang sebelumnya berada di bawah naungan Pertamina, kini jumlahnya telah berkurang menjadi 242 perusahaan.
“Saya kemarin melaporkan bahwa 2025 sejak saya masuk dan kemarin 2026, dari 257 sekarang sudah menjadi 242. Jadi ada 15 perusahaan yang berkurang. Di antaranya adalah ada 10 SPV di PIS (Pertamina Internasional Shipping) yang berperan sebagai entitas kapal untuk Pertamina,” tuturnya.












