Diangkut 17 Kuda , Emas 1 Ton Milik Penguasa Toba Hilang

kabarterkinionline.com

Diangkut 17 Kuda , Emas 1 Ton Milik Penguasa Toba Hilang. Emas saat ini diburu oleh masyarakat luas karena menjadi salah satu instrumen investasi paling menjanjikan. Sebab, aset logam mulia kuning tersebut menyebabkan guncangan ekonomi global. Bahkan pada tahun ini harga emas mencetak rekor tertinggi yakni sempat menembus angka Rp3 juta lebih per gram.
Kini menjadi primadona dan diburu banyak orang untuk melindungi nilai aset mereka. Salah satunya, keluarga Batak yang sudah berbeda generasi bisa menjadi contoh baik bagaimana perolehan uang tak dipakai foya-foya, tetapi untuk investasi emas.

Tak tanggung-tanggung, total emas yang ditabung selama ratusan tahun sudah mencapai 1 ton. Perkenalkan, ini dia keluarga Sisingamangaraja yang eksis dari tahun 1530 sampai 1876.

Keluarga Sisingamangaraja merupakan penguasa Negeri Toba di Tanah Batak. Orang lain selain disebut Raja Sisingamangaraja, yang dimulai oleh Sisingamangaraja I (1530) hingga Sisingamangaraja XII (1876). Alias ​​sudah berjalan 12 generasi atau 346 tahun.

Selama berkuasa, Sisingamangaraja mempunyai hak mutlak atas perdagangan kapur barus. Kala itu, Tanah Batak menjadi pusat produksi kapur barus selain di Semenanjung Melayu dan Kalimantan. Dari sana, terjadi ekspor kapur barus yang diminati banyak orang. Bahkan, tanaman itu mempunyai kedudukan penting dalam Islam dan disebut dalam Al-Quran.

Tak heran, jika harga kapur barus di pasar global sangat mahal. Siapapun yang menguasai perdagangan kapur bisa dipastikan kaya raya, termasuk keluarga Batak Sisingamangaraja.

Augustin Sibarani dalam Perjuangan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII (1988) mencatat, sejak Sisingamangaraja I berkuasa pada 1530 kerajaan sudah memperdagangkan kapur barus ke pedagang Arab dan Eropa untuk dipasarkan ke seluruh dunia. Perlahan-lahan, kerajaan kelak tidak hanya berdagang, tetapi juga sukses memonopoli pasar kapur barus di Sumatera Utara.

Semua ini praktis membuat Sisingamangaraja kaya raya. Hanya saja, kekayaan tersebut tak dihamburkan-hamburkan. Dalam bayangan orang, raja sudah pasti hidup mewah bergelimang harta di Istana. Namun, hal ini tak terjadi pada trah Sisingamangaraja.

Dari Sisingamangaraja I hingga Sisingamangaraja XII semua punya hobi sama, yakni menabung emas dan perhiasan.

“Raja-raja Sisingamangaraja dari mulai yang ke-1 hingga ke-10, semuanya suka mengumpulkan Blue Diamonds dari Ceylon. Lalu juga Intan-intan Ceylon yang dibawa untuk dari India melalui Barus. Intan-intan Ceylon ini besarnya seperti telur burung,” tulis Augustin Sibarani.
Memang tidak diketahui pasti alasan mereka menabung emas. Namun pastinya tabungan emas mereka sangat menumpuk. Hal ini diceritakan lebih lanjut lewat berbagai kronik saat terjadi serangan orang-orang Padri tahun 1818.

Menurut Mangaraja Onggang Parlindungan dalam Tuanku Rao (1964), para penyerang dari Padri yang sudah memberdayakan basis pertahanan Sisingamangaraja mengambil semua perhiasan dan emas.

Seluruhnya diangkut oleh 17 kuda. Setiap kuda bisa membawa lebih dari 60 Kg emas. Alias ​​total emas yang diangkut mencapai 1 ton emas yang jika dirupiahkan sekarang seharga Rp2,7 Triliun.

Ini belum menjelaskan emas yang menyelamatkan keluarga Sisingamangaraja saat terjadi penyerangan. Saat itu, pihak keluarga menaruh perhiasan kerajaan ke dalam wadah penanak nasi super besar. Wadah tersebut diketahui berada di tempat rahasia dan hanya beberapa orang saja.

Aksi penyerangan juga membuat trah Sisingamangaraja berakhir di generasi ke-12. Sisingamaraja XII tewas di tangan Belanda dan mengakhiri sejarah panjang keluarga tersebut di Tanah Batak.

Berakhirnya kekuasaan membuat harta segunung menjadi milik kerajaan lepas ke tangan orang lain, termasuk Ratu Victoria di Inggris. Dipercaya harta Sisingamangaraja dipakai di mahkota penguasa Inggris tersebut.

“Perhiasan bisa sampai di Inggris karena dibawa oleh seorang bekas tentara Padri yang melarikan diri ke Kelang di Malaysia dan di sana menjualnya,” ungkap Augustin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *