Kabarterkinionline.com
Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur , Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera. Sebagai dokter, saya ingin mengetuk hati pembuat kebijakan di sektor perhubungan dan pekerjaan umum, jangan jadikan jalan lintas Sumatera sebagai jalur cepat menuju liang kubur.
Sebagai pria yang lahir di Aek Kanopan, Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara dan besar dengan deru mesin truk di jalan lintas Sumatera, saya selalu mengira bahwa ujian kesabaran tertinggi manusia adalah menghadapi macet berjam-jam saat mudik. Namun, sebagai seorang dokter, saya keliru.
Kesabaran itu berubah menjadi horor murni ketika aspal hitam yang panas itu mendadak menjelma menjadi arena seluncur maut akibat tumpahan minyak solar yang dibiarkan begitu saja. Bahkan menjadi arena yang membuat sepeda motor terjengkang akibat menabrak kerukang jalan berlubang yang tak kunjung ditambal.
Mari kita bicarakan jalan lintas Sumatera dengan jujur. Jalan ini bukan sekadar urat nadi logistik, melainkan sebuah ekosistem yang keras.
Di sini, truk-truk monster pembawa tandan buah sawit, bus AKAP yang sopirnya punya mental pembalap Formula 1, hingga sepeda motor bebek keluarga, saling berbagi ruang yang sempit.
Ironisme ini terasa kian menyakitkan mengingat jalan lintas Sumatera (Jalinsum) bukanlah jalur rintisan yang sepi, melainkan sebuah megaproyek urat nadi logistik nasional yang membentang raksasa sepanjang hampir 2.900 kilometer dari Banda Aceh di ujung utara hingga ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung, di ujung selatan.
Jaringan jalan masif ini terbagi menjadi tiga jalur utama, Lintas Timur, Lintas Tengah, dan Lintas Barat, yang setiap harinya dipaksa menanggung beban ribuan truk komoditas berat dan bus antarprovinsi.
Namun, alih-alih menjadi simbol konektivitas kemajuan ekonomi, bentangan aspal yang membelah seluruh Pulau Sumatera ini justru kerap berubah menjadi perangkap maut yang mengintai nyawa jutaan penggunanya setiap detik.
Ketika sebuah truk tua yang tangkinya bocor atau dipaksakan membawa muatan berlebih mulai meneteskan solar di sepanjang jalan, petaka sistemis langsung dimulai. Aspal jalan lintas Sumatera yang dasarnya sudah bergelombang berkat proyek tambal sulam abadi, seketika berubah menjadi perangkap berbahaya bagi pengendara. Terakhir, kecelakaan maut terjadi di jalan lintas Sumatera tepatnya di Musi Rawas Utara yang menewaskan 16 orang.
Petaka ini diperparah oleh hobi menahun dinas terkait yang gemar mengeruk jalan dengan dalih perbaikan, tapi entah kenapa sangat lama untuk ditambal kembali.
Lajur yang dikeruk itu dibiarkan menganga berminggu-minggu, menciptakan undakan tajam bertekstur kasar yang siap merusak shockbreaker atau membuat goyah keseimbangan motor. Sialnya, ketika jalanan yang sudah dikeruk dan dibiarkan terbengkalai itu tersiram tumpahan solar, kombinasinya menjadi sangat mematikan.
Pengendara tidak hanya kehilangan traksi ban karena licinnya minyak, tetapi juga terhentak oleh kontur aspal yang tidak rata. Oleng sedikit saja artinya fatal.
Sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang kebetulan mengabdi di dunia medis, posisi ini sering kali menempatkan saya dalam dilema batin yang akut.
Di satu sisi, sebagai abdi negara, saya paham betul betapa rumitnya birokrasi, bagaimana penyusunan anggaran pengerjaan jalan harus melewati meja-meja rapat yang panjang, hingga ketatnya pengadaan barang dan jasa.







