kabarterkinionline.com
Kelangkaan BBM di Sumsel Renggut Nyawa Supir Truk, Bahlil : Dari 45.000 Sumur Minyak Rakyat di Indonesia, 25.000 Berada di Sumsel. Hal ini disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ketika membuka Musda XI DPD Partai Golkar Sumsel di Palembang, Minggu (2/8/2026).
Setiap kali ada perubahan kenaikan BBM di seluruh wilayah Indonesia khususnya di Sumbagsel Palembang akan selalu terjadi ada permasalahan yang sangat pelik di lapangan dalam pengsisian BBM. BBM sangat langka khususnya Solar bisa antri berjam-jam bahkan berhari-hari yang membuat sopir kelelahan, kapuk antri hingga sampai-sampai ada yang meninggal di SPBU Banyuasin Sumsel .
Selain itu BBM Pertalite sangat jarang/langka dijual di SPBU sehingga terpaksa mengisi BBM Pertamak yang tidak disubsidi dengan harga Rp 16.500/Liter yang diisi pemerintah . Padahal Sumbagsel adalah salah satu penghasil minyak bumi terbesar di wilayah Indonesia kaya akan hasil bumi di Sumsel.
BBM di Sumsel Palembang Plaju BBM langka di jual di SPBU khususnya minyak Solar dan pertalite
Setiap ada kenaikan BBM minyak Solar dan Pertalite akan selalu langka / jarang di jual di SPBU Sumatera Selatan (Sumsel) Palembang Plaju
Kemanakah BBM Solar dan Pertalite itu dijual Pertamina Patra Niaga Sumbagsel Plaju ?
Apakah minyak Solar itu dijual ke pabrik-pabrik dengan harga yang lebih tinggi dan juga Pertalite sengaja ditimbun agar warga membeli minyak pertamax dengan harga yang sangat mahal ?
Menurut Gubernur Sumsel Herman Deru kepada Media mengatakan antrean panjang SPBU cepat habis sehingga pemilik kendaraan sering tidak kebagian. Bahkan antrian itu telah mengakibatkan korban jiwa.
Dikatakan Gubernur lagi persoalan antrean ini sebenarnya klasik, pertama karena ada sindikat. Baik itu di internal SPBU masing-masing. Ada juga operator yang punya 5 barkode tukang urjal (angkot) SPBU. Polisi diminta turun tangan dalam pengawasan termasuk BPH Migas dalam pendistribusian BBM.
Kelangkaan BBM Sumatera Memakan Korban Jiwa. Drama kelangkaan energi di republik ini sudah berada di titik paling kritis dan mengerikan.
Selama lebih dari sebulan per Juli 2026, antrean kendaraan mengular berkilo-kilometer di berbagai SPBU Palembang dan Medan. Tragisnya, krisis ini telah memakan korban jiwa: seorang sopir truk berusia 50 tahun meninggal akibat kelelahan hebat di balik kemudi saat mengantre Solar di Jalintim Banyuasin!
Draf ketimpangan distribusi energi yang sengaja disembunyikan:
- Mutilasi Kuota Gila-gilaan: Data internal mengungkap fakta mengerikan. Pemprov Sumsel mengusulkan kuota Solar sebesar 2,81 Juta KL untuk tahun 2026, namun BPH Migas hanya menyetujui 630 Ribu KL (kurang dari 25%!). Bahkan daerah OKU Selatan yang meminta 1,62 Juta KL hanya diberi realisasi receh 8.530 KL. Ini bukan kekurangan pasokan, ini namanya pemotongan kuota secara berdarah dingin!
- Kambing Hitam ‘Mafia Barcode’: Ketika antrean mengular hingga subuh dan SPBU di Medan terpaksa tutup jam 3 siang karena stok ludes, Pertamina berdalih “stok aman” dan kepala daerah menunjuk hidung “sindikat barcode”. Pengamat publik Unsri menegaskan: stop lempar narasi! Jika mafia itu ada, audit laporan keuangan SPBU, bongkar jaringannya, dan seret ke penjara! Jangan jadikan mafia sebagai alasan pembenaran atas penghalangan regulasi.
- Anak Tiri Fiskal Luar Jawa: Pakar energi UGM mengungkap bahwa pasokan di Pulau Jawa selalu dijaga ketat agar tidak memicu gejolak sosial di pusat kekuasaan. Sementara Sumatra, yang tanahnya dikeduk habis-habisan untuk batu bara dan minyak bumi, justru dibiarkan megap-megap menanggung beban migrasi konsumen akibat disparitas harga Pertamax-Pertalite yang terlampau jauh (selisih Rp6.250/liter).
Sementara itu General Manager PT. Pertamina Patra Niaga Sumbagsel yang dikonfirmasi hingga berita ini ditayangkan belum memberikan tanggapannya.






