Kabarterkinionline.com
Ketika Relasi Parasosial Melampaui Politik,Wisata Rumah Jokowi. Di sudut Kota Surakarta, Jawa Tengah, aliran manusia tak pernah benar-benar berhenti. Terlebih, saat musim liburan tiba. Mereka datang berkelompok membawa rasa penasaran, kekaguman, hingga harapan yang sulit dijelaskan. Tujuannya bukan sekadar tempat wisata biasa, melainkan kediaman Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, di kawasan Sumber, Banjarsari.
Sejak Selasa (24/3/2026) hingga Kamis (26/3/2026) atau H+4 sampai H+6 Lebaran 2026, ratusan orang dari berbagai daerah terus memadati kawasan itu. Di bawah terik yang sesekali berganti gerimis, mereka menunggu giliran untuk sekadar melihat, menyapa, atau—jika beruntung—bertemu langsung dengan Jokowi.
Deby (51), warga Manado, menjadi salah satu di antara mereka. Bersama rombongannya, Deby kembali mencoba peruntungan pada Rabu (25/3/2026). Ini adalah kunjungan ketiganya, dua sebelumnya berakhir tanpa pertemuan.
Namun, kegagalan itu tak menyurutkan semangatnya. Saat Jokowi akhirnya keluar menuju mobil, Deby berteriak memanggil namanya, meski pandangannya terhalang barisan pengunjung lain dan petugas keamanan.
Sementara itu, Cathrine (52), seorang guru asal Kupang, justru berhasil mewujudkan harapan bertemu Jokowi sehari sebelumnya. Dia pun dapat kesempatan berjabat tangan dan berfoto bersama Jokowi.
“Satu kata, puji Tuhan. Saya tidak bisa berkata-kata, hanya mau bilang terima kasih diberikan kesempatan bertemu beliau,” ujarnya dengan suara bergetar.
Tak semua datang dengan ikatan emosional yang kuat. Gabriela (18), mahasiswa asal Sumatra Utara yang berkuliah di Yogyakarta, mengaku kunjungannya lebih bersifat spontan.
“Spontan aja kepikiran. Tadi sudah selesai jalan-jalan, daripada bengong, ke rumah Pak Jokowi,” katanya.
Fenomena antrean panjang dan harapan yang dibawa para pengunjung ini bukan sekadar euforia sesaat. Antusiasme yang tetap bertahan bahkan setelah Jokowi tak lagi menjabat memunculkan pertanyaan: apa yang sebenarnya mendorong orang datang ke tempat ini?
Memori Kolektif tentang Jokowi
Pakar Sosiologi Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof. Dr. Drajat Tri Kartono, menilai apa yang terjadi di kediaman Jokowi menunjukkan bahwa dia masih mampu menarik perhatian masyarakat, bahkan dibandingkan dengan presiden-presiden sebelumnya setelah purnatugas.
Menurutnya, hal ini tidak lepas dari konsistensi peran yang dimainkan Jokowi sejak masih menjabat sebagai Wali Kota Solo. Konsistensi tersebut membentuk semacam memori kolektif di masyarakat—ingatan bersama yang terus hidup dan memicu rasa penasaran.
Dalam konteks budaya Jawa, sikap Jokowi yang tidak selalu merespons secara frontal, baik terhadap pujian maupun kritik, justru menciptakan ruang tafsir di benak publik. Sosoknya terlihat “berbeda”, namun tidak sepenuhnya terdefinisi. Itulah yang boleh jadi mendorong orang untuk terus mencari tahu.
Fenomena serupa, kata Drajat, sebenarnya sudah muncul sejak lama. Saat masih menjabat Wali Kota Surakarta, rumah Jokowi kerap didatangi warga yang berharap kesembuhan, bahkan ada yang menjadikannya sebagai semacam “tembok ratapan”.
“Orang-orang melihat Jokowi punya sesuatu yang berbeda, tetapi tidak terekspresikan secara frontal. Ini yang membuat memori tentang dirinya tetap aktif di masyarakat,” ujar Drajat.
Memori kolektif semacam ini, lanjutnya, tidak bisa dikendalikan oleh satu pihak atau rezim tertentu. Setiap individu menyimpan pengalaman dan kesannya masing-masing. Ada yang memperkuat, ada pula yang mempertanyakan. Namun, selama memori itu terus hidup, sosok Jokowi tetap berada dalam perhitungan publik—singkatnya, dia belum benar-benar menjadi masa lalu.
Sementara itu, psikolog politik Universitas Sebelas Maret (UNS), Dr. Mohammad Abdul Hakim, melihat fenomena ini sebagai manifestasi dari relasi emosional yang unik antara tokoh dan publik.
Menurutnya, kedekatan yang terlihat dari para pengunjung mencerminkan apa yang dalam psikologi disebut sebagai hubungan parasosial—relasi satu arah yang biasanya terjadi antara penggemar dan figur publik.
“Pak Jokowi menghadirkan pola relasi yang relatif baru di Indonesia. Karakteristiknya mirip hubungan antara fans dengan selebritas,” ujar Hakim.
Ikatan ini, kata Hakim, bahkan bisa lebih kuat dibandingkan kedekatan ideologis atau afiliasi politik. Karena itu, fenomena kunjungan ke rumah Jokowi yang terus mengalir tidak lagi bisa dibaca semata sebagai gejala politik elektoral.
“Ini sudah bergeser menjadi fenomena kultural. Ikatan emosionalnya tetap ada, bahkan setelah konteks politiknya selesai,” lanjut Hakim.
Hakim menjelaskan kedekatan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan dibangun sejak awal kemunculan Jokowi di panggung politik. Sosoknya dinilai berbeda dari politisi pada umumnya—dia tampil sebagai representasi “orang biasa”.
Cara bicara, gestur, hingga penampilannya terasa dekat dan mudah dipahami. Pendekatan seperti kunjungan mendadak ke kampung-kampung serta interaksi langsung tanpa protokoler yang kaku memperkuat kesan bahwa dia adalah figur yang mudah dijangkau.
“Dia memberi kesan sebagai sosok yang bisa diajak berinteraksi langsung tanpa perantara. Bahkan muncul panggilan seperti ‘Pakde’ atau ‘Bapak’ yang menunjukkan kedekatan personal,” jelasnya.
Dalam konteks ini, media bukanlah aktor utama, melainkan sekadar alat amplifikasi. Kedekatan personal tetap menjadi kunci utama yang mengikat hubungan tersebut.
Fenomena ini bahkan melahirkan praktik baru dalam pariwisata. Kediaman Jokowi menjadi bagian dari semacam “wisata kenegarawanan”, berdampingan dengan destinasi religi atau tempat bersejarah lain di Surakarta.
Namun, di balik kekaguman itu, tersimpan konsekuensi jangka panjang yang tidak sederhana. Hakim mengingatkan adanya potensi lahirnya “cek kosong” dalam politik. Itu adalah situasi ketika publik memberikan kepercayaan tanpa syarat kepada seorang tokoh.
Dalam kondisi seperti itu, daya kritis masyarakat berisiko menurun. Relasi politik menjadi semakin personal, bukan lagi berbasis pada gagasan atau program.
“Ketika orang sudah terlanjur jatuh hati, perubahan kebijakan atau ideologi tidak lagi dianggap masalah. Ini memang model hubungan yang diidam-idamkan banyak politisi, tetapi efeknya bisa membuat ruang politik didominasi oleh manuver personal, bukan edukasi publik,” katanya.
Di bawah terik matahari dan gerimis yang datang silih berganti, antrean di depan rumah itu mungkin akan terus ada. Selama ingatan tentang Jokowi tetap hidup di benak masyarakat.
Langkah-langkah yang datang ke sana tak sekadar mencari pertemuan singkat, tetapi juga merawat kedekatan yang pernah mereka rasakan, meski hanya dari kejauhan.








