kabarterkinionline.com
Kolaborasi SKK Migas-Medco di Sungsang IV dan Kembalinya Ikan Tirusan. Di muara Sungai Musi, sungai yang panjangnya 720 km berhulu di Rejang Lebong, Bengkulu, di persilangan antara sungai dan laut berdiri Desa Sungsang IV, desa yang berhadapan langsung dengan Selat Bangka yang membentang ke Laut Cina Selatan, selat yang memisahkan pulau Sumatera dan pulau Bangka. Di sini, air tidak hanya mengalir—ia membawa ingatan. Setiap riak di muara menyimpan jejak kapal jung, suara nelayan, dan gema sejarah yang tak tercatat di buku pelajaran.
Menurut catatan sejarah maritim Sumatera Selatan, kawasan Sungsang masa lalu adalah titik penting dalam jalur perdagangan sejak masa Sriwijaya. Kapal-kapal dari India, Tiongkok, dan Arab pernah bersandar di muara ini, membawa rempah, keramik, dan pengaruh budaya. Setelah kerajaan maritim Sriwijaya meredup, Kesultanan Palembang Darussalam menjadikan Sungsang sebagai pelabuhan strategis untuk perdagangan lada dan hasil laut.
Narasi lokal menyebutkan, Sungsang termasuk kisah kampung nelayan tertua, ritual laut, dan jejak perdagangan maritim di Sumsel. Warga desa menyebut bahwa nenek moyang mereka telah tinggal di sini “sejak sebelum ada Palembang,” sebuah klaim yang bukan sekadar nostalgia, tetapi bentuk klaim identitas.
Semua itu tidak ada dalam catatan sejarah resmi, kebesaran masa lalu tersebut hanya cerita yang keluar dari mulut ke mulut. Sungsang IV memang tidak tercatat sebagai pusat kekuasaan, melainkan sebagai ruang liminal—di antara sungai dan laut, di antara pusat dan pinggiran. Justru karena itu, ia menyimpan potensi naratif yang kuat: sebagai ruang perlawanan terhadap pelupaan.
ni bukan tentang masa lalu sejarah Sungsang. Ini tentang sebuah kesadaran bahwa industri hulu migas memiliki tanggung jawab ganda. Pertengahan Agustus 2025, serombongan jurnalis datang ke Desa Sungsang IV. Kedatangan para jurnalis tersebut diprakarsai Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama Medco E&P Indonesia menyaksikan langsung penyelamatan hutan mangrove yang berada di pesisir pantai Timur Sumatera Selatan (Sumsel) dan berbatasan langsung dengan Taman Nasional Sembilang.
Di pantai yang masuk dalam wilayah administratif Desa Sungsang IV. Sejak September 2024, sebanyak 31.000 bibit mangrove telah ditanam di lahan seluas 3,5 hektare, dan target 30.000 bibit lainnya siap menyusul pada tahun 2025.
Pemilihan mangrove bukanlah tanpa alasan. Hutan mangrove dikenal sebagai ekosistem blue carbon (karbon biru) yang memiliki kemampuan menyimpan karbon tiga hingga lima kali lebih efektif dibandingkan hutan tropis daratan. Akar-akarnya yang kompleks tidak hanya menjadi benteng alami penahan abrasi, tetapi juga berfungsi sebagai area asuhan (nursery ground) bagi berbagai biota laut. Di sinilah udang, kepiting, dan anakan ikan menemukan tempat berlindung dan mencari makan, sebuah fakta yang menopang 90% mata pencaharian warga Sungsang sebagai nelayan.
“Mangrove memiliki kontribusi besar dalam mereduksi karbon. Karena itu kami memulai program ini. Mangrove bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga keberlanjutan hidup masyarakat”, kata Hirmawan Eko Prabowo, Manager Field Relations Medco E&P Indonesia.
Perjalanan ke Sungsang IV adalah kisah tentang bagaimana desa pesisir yang nyaris kehilangan identitas lautnya kini kembali hidup berkat akar-akar mangrove yang tertanam? Sekaligus tentang bagaimana energi dan alam bisa berjalan berdampingan. Sementara bagi para jurnalis yang tergabung Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumsel yang ikut menanam mangrove di di Sungsang IV, perjalanan ini bukan sekadar liputan. Para jurnalis ini menjadi saksi bagaimana ribuan batang kecil menjelma menjadi sabuk hijau yang menahan abrasi sekaligus memanggil kembali kehidupan yang hilang.
Sungsang IV kini bukan lagi sekadar desa nelayan di tepian Banyuasin. Ia telah menjelma menjadi simbol: bahwa bumi selalu memberi kesempatan, jika manusia mau merawatnya.
Cerita Abdullah, Ketua Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD) Sungsang, menggambarkan kepedihan yang dirasakan warga. Beberapa tahun silam, Desa Sungsang IV menghadapi tantangan berat. Hutan mangrove, benteng alami dari abrasi laut, mulai menipis. Akibatnya, ekosistem pesisir terganggu, ikan-ikan yang menjadi tumpuan hidup nelayan kian sulit ditemukan. Bahkan, ikan tirusan, primadona laut dengan nilai ekonomi fantastis, seolah lenyap ditelan ombak.
“Masyarakat Sungsang IV merasakan betul dampaknya, laut yang dulu murah hati, kini terasa enggan memberi. Nelayan harus berlayar jauh untuk bisa mendapatkan ikan. Kami sempat merasa laut ini marah pada kami”, kenang.
Uluran Tangan Hulu Migas
Namun, takdir Sungsang IV mulai berubah. Kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem pesisir mendorong SKK Migas Sumbagsel bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk mengambil langkah nyata. Mereka, yang selama ini dikenal dengan eksplorasi minyak dan gas, kini juga mengemban misi lingkungan.
“Tugas kami tidak hanya mengeksplorasi minyak dan gas, tetapi juga melindungi lingkungan”, kata Safei Syafri , Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagsel (Sumatera bagian Selatan).
Kawasan pesisir atau pantai di Sungsang IV menjadi lokasi fokus program penanaman mangrove untuk tahun 2024-2025. Pemilihan lokasi ini adalah hasil kolaborasi erat dengan Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel, memastikan jenis mangrove yang ditanam sesuai dengan kondisi alam setempat. Proses penanaman dan pemeliharaan ini diawasi ketat oleh Dinas Kehutanan, namun yang terpenting, melibatkan partisipasi aktif masyarakat Desa Sungsang IV, dari pembibitan, penanaman, hingga pemeliharaan. LDPHD Sungsang menjadi garda terdepan dalam menjaga “harta karun” hijau ini.
Di tengah ancaman abrasi dan eksploitasi, hutan mangrove di Sungsang IV berdiri sebagai benteng ekologis dan simbol perlawanan terhadap kerusakan lingkungan. “Di sini ada mangrove jenis Rhizophora apiculata yang tumbuh di sini hanya ditemukan di Kalimantan dan Sungsang IV”, kata Romi Adi Candra Kepala Desa (Kades) Sungsang IV. Keberadaan jenis mangrove l menjadikannya spesies langka yang menarik perhatian peneliti dari Belanda, Australia, dan Singapura.
Program restorasi mangrove berbasis masyarakat, seperti SMART (Sungsang Mangrove Restoration and Ecotourism), bukan hanya soal pelestarian alam. Ia adalah strategi branding yang mengubah warga dari pelaku eksploitasi menjadi penjaga ekosistem. Partisipasi aktif warga Desa Sungsang IV, menurut Romi, dalam pembibitan dan edukasi mangrove telah meningkatkan kesadaran ekologis dan membuka peluang ekonomi baru.
Ekowisata
Peluang ekonomi baru tersebut bernama ekowisata. Dampak positif program menyelamatkan mangrove ini terasa hingga ke dapur-dapur warga. Jika dulu buah mangrove hanya jatuh dan membusuk, kini tangan-tangan terampil ibu-ibu di Sungsang mengolahnya menjadi produk bernilai ekonomi. Buah dari jenis Sonneratia caseolaris atau yang dikenal warga sebagai “pedada”, diubah menjadi dodol dan sirup dengan cita rasa unik.
Bahkan, limbah mangrove pun bisa diolah menjadi sabun cuci tangan. “Menjaga mangrove berarti menjaga ekonomi warga”, kata Ridwan, Camat Banyuasin II.
Keberhasilan ini memantik mimpi yang lebih besar: menjadikan Sungsang sebagai destinasi ekowisata unggulan. Desa Sungsang IV, yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Sembilang, dianugerahi SK Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2023 untuk mengelola kawasan hutan desa.
“Kami di sini ingin mengembangkan eduwisata mangrove”, kata Kadis Romi. Kini, jalur eduwisata mangrove mulai ditata. Penginapan sederhana atau bahasa kerennya home stay dibangun untuk menyambut tamu wisatawan yang datang. Juga disusun rencana mengembangkan kawasan tanah timbul Tanjung Carat. Potensi ini semakin diperkuat dengan fenomena alam yang menakjubkan, setiap akhir tahun, ribuan burung migran dari Siberia singgah di Sungsang, menjadikan Banyuasin sebagai salah satu surga bagi para pengamat burung.
“Kami berharap ekowisata mangrove ini tidak hanya menarik wisatawan tetapi juga meningkatkan kesadaran generasi muda tentang pentingnya menjaga lingkungan”, kata Romi Adi Candra.
Kisah Sungsang IV adalah bukti nyata kekuatan sinergi antara berbagai pihak, SKK Migas berkolaborasi dengan KKKS yang beroperasi di wilauah Sumsel, selain Medco E&P Indonesia juga ada PHR Regional 1 Zona 4, PHE Jambi Merang dan lainnya.
Kini, warga Sungsang IV tak lagi membuka hutan sembarangan. Kesadaran untuk menjaga alam telah tumbuh seiring hadirnya mangrove yang bukan hanya menahan abrasi, tetapi juga melahirkan kembali kehidupan.
Sungsang IV bukan hanya dikenal sebagai desa nelayan di tepian Banyuasin, tetapi juga sebagai contoh bagaimana kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan korporasi bisa menenun kembali harmoni antara manusia dan alam. Sebuah kisah tentang harapan yang tumbuh dari akar-akar mangrove, menjanjikan masa depan yang lebih hijau dan sejahtera.
Ikan Tirusan
Cerita yang didengar dari Sungsang IV adalah bukti nyata bahwa eksploitasi energi dan konservasi alam dapat berjalan beriringan. Di balik deru industri migas, ada sulaman harapan yang ditenun dari akar-akar mangrove. Ketika ikan tirusan kembali berenang di perairan yang dulu nyaris mati, itu adalah pesan kuat, mari menjaga dan merawat mangrove. Kerusakan hutan mangrove, air laut keruh, dan perlahan ikan-ikan endemik seperti tirusan menghilang dari perairan pergi jauh ke habitatnya yang baru.
Satu tahun setelah penanaman mangrove dimulai, tanda-tanda kehidupan baru muncul. Air laut mulai jernih kembali, kepiting dan udang kembali banyak. Hingga suatu hari, nelayan dikejutkan dengan tangkapan yang tak biasa, ikan tirusan, spesies endemik yang selama ini menghilang kembali tersangkut di jala nelayan Sungsang IV.
“Bisa dibayangkan, dua ekor ikan tirusan bisa mencukupi kebutuhan nelayan selama berbulan-bulan. Kemunculannya adalah berkah sekaligus bukti bahwa alam mulai pulih”, Romi.
Terbukti di Sungsang, penanaman mangrove ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah investasi jangka panjang yang mulai menunjukkan hasilnya. Dengan kembalinya hutan mangrove. Mungkin dapat dikatakan, puncak kebahagiaan warga terjadi ketika ikan tirusan, spesies endemik bernilai ratusan juta rupiah per kilogram, kembali datang mendekat ke pantai. Kemunculan ikan ini menjadi simbol nyata bahwa ekosistem di pantai Timur Sumatera yang sempat rusak, kini mulai pulih.
Mengapa ikan tirusan harganya mahal mencapai jutaan rupiah? Ikan Tirusan (juga dikenal sebagai ikan tirus atau gulamah) adalah spesies ikan dari famili Sciaenidae, yang dikenal karena kemampuan menghasilkan suara melalui organ gelembung renangnya. Nama latinnya adalah Otolithoides pama.
Ikan ini memiliki sifat amphidromous, artinya bertelur di perairan tawar atau payau. Larva hanyut ke laut, setelah dewasa kembali ke perairan tawar untuk memijah. Habitat utama ikan tirusan berada perairan estuari (muara sungai yang bertemu laut), di air payau dengan tingkat salinitas bervariasi. Ikan jenis ini ditemukan dari Pakistan hingga Papua, termasuk Samudra Hindia dan Pasifik tropis.
Di Indonesia, ikan tirusan banyak ditemukan di Indragiri Hilir, Provinsi Riau, terutama di perairan Mandah, Batang Tumu, dan Igal. Juga ditemukan di Sambas, Kalimantan Barat, dan beberapa pesisir Sumatera lainnya.
Harga ikan tirusan sangat mahal. Harga seekor ikan tirusan bisa mencapai Rp80 juta, bahkan limpa (gelembung renang)-nya bisa dijual hingga Rp270 juta. Penyebab harga ikan ini tinggi karena gelembung renang digunakan dalam industri medis, terutama untuk benang operasi yang dapat diserap tubuh. Jenis ikan ini memang tergolong langka, dalam satu tahun nelayan hanya bisa menangkap 1–2 ekor. Permintaan ekspor ini sangat tinggi ke negara seperti Singapura dan Tiongkok
Ciri-ciri fisik memiliki tubuh ramping dan memanjang, memiliki warna cenderung coklat keabu-abuan atau suram. Pada sirip punggung panjang dan berlekuk dengan mulut agak rendah, khas ikan dasar. Ikan tirusan memiliki gelembung renang besar yang menjadi ciri khas dan sumber nilai ekonominya. Ukuran bisa mencapai 8–10 kg, meski yang umum ditangkap sekitar 4–6 kg.
Sungsang kini bukan lagi sekadar desa nelayan, melainkan sebuah kanvas hidup tentang harmoni yang kembali terjalin antara manusia dan alam. Desa Sungsang IV adalah contoh nyata bagaimana kolaborasi korporasi, pemerintah, dan masyarakat bisa menyulam kembali harmoni antara manusia dan alam. Dari pesisir sunyi yang terkikis, kini menjelma menjadi paru-paru dunia kecil yang berdenyut, menyimpan oksigen harapan dan peluang baru.
Cerita Desa Sungsang IV adalah pengingat bahwa energi dan alam bisa dipersatukan dalam harmoni. Di balik deru mesin pengeboran minyak dan gas, ada denyut halus kehidupan yang lahir dari akar-akar mangrove. Ketika ikan tirusan kembali berenang di air yang tak lagi keruh, ini bukan sekadar kabar gembira bagi nelayan tetapi juga pertanda bahwa bumi selalu memberi kesempatan kedua jika manusia mau merawatnya.
Sungsang IV kini bukan hanya sekedar desa nelayan di tepian Banyuasin tetapi juga sebagai contoh bagaimana kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan korporasi bisa menenun kembali harmoni antara manusia dan alam. Di desa ini, mangrove bukan hanya pohon—ia adalah simbol harapan yang terus tumbuh untuk masa depan lebih hijau bagi semua.
Bahasa kerennya seperti ini, melalui program rehabilitasi mangrove, SKK Migas Sumbagsel dan KKKS tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menanam harapan. Merangkai kembali harmoni hilang antara manusia dan alam, menjadikan Desa Sungsang IV sebagai contoh nyata bagaimana sebuah pesisir sunyi bisa bertransformasi menjadi “paru-paru dunia” yang menjanjikan masa depan lebih hijau dan sejahtera.













