kabarterkinionline.com/
Luhut Marah Ada Pejabat Tuduh Dirinya Punya Saham Toba Pulp Lestari: Kampungan! Tunjukin Buktinya.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan membantah memiliki saham di PT Toba Pulp Lestari (TPL), perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai PT Indorayon.
Luhut geram karena tudingan tersebut datang dari kalangan pejabat tinggi negara. Ia menilai itu merupakan tuduhan tanpa data.
"Kita yang pejabat-pejabat tinggi jangan asal ngomong juga, pakai data. Ada tidak datanya? Baru ngomong. Jangan asal tuduh. Tidak elok itu asal nuduh. Menurut saya kampungan itu," katanya, Selasa (13/1/3026).
Luhut menantang pihak yang menuduhnya agar menunjukkan bukti.
Ia menegaskan hanya memiliki saham di perusahaan Toba Sejahtera yang ia dirikan sendiri.
Dia bilang, satu-satunya Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang dimiliki adalah batu bara di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
“Di situ ada Kutai Energi satu-satunya yang punya IUP yang saya dapat 2003 atau 2004, IUP batu bara di Kutai Kertanegara. Itulah sampai hari ini milik saya,” ujar Luhut.
Luhut juga membantah memiliki saham atau IUP nikel, termasuk di perusahaan nikel di Morowali.
"Saya punya saham katanya di sana. Tidak punya. Tidak, bawa kemari," ucap Luhut.
Ia mengaku jengkel karena tuduhan ini menyinggung harga dirinya.
Sejak masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut memastikan tidak pernah ingin memiliki IUP nikel.
Pernah Tolak TPL Sejak Era Gus Dur.
PT Toba Pulp Lestari merupakan satu dari sekian perusahaan yang beroperasi di Sumatera Utara yang diperiksa Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
KLH memeriksa delapan perusahaan terkait dugaan pelanggaran lingkungan yang diduga menyebabkan banjir dan longsor pada akhir November 2025.
Pemeriksaan ini dilakukan setelah ditemukan indikasi pemanfaatan ruang yang tidak sesuai izin, lemahnya pengelolaan lingkungan, serta kegagalan perusahaan mengendalikan erosi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru dan Garoga.
Luhut mengklaim dirinya sudah menolak kehadiran TPL sejak menjabat Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) pada era Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
“Saya nolak TPL itu sebenarnya sejak saya lihat sendiri waktu saya Menperindag waktu saya pergi ke Toba, ke gereja HKBP di Pea Raja,” ujarnya.
Saat itu, ketika Luhut sedang melewati jalan di Pea Raja, Sorkam, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, dan melewati TPL yang kala itu masih bernama Indorayon, ia melihat ada demo.
Luhut meminta mobilnya berhenti di situ, tetapi ia mendapat penolakan dari orang-orang di sekitarnya karena pendemo di situ disebut kerap merusuh.
Luhut kekeuh tetap ingin turun dari mobil dan membahas pendemo. Akhirnya ia turun dan berdialog bersama demonstrasi di situ.
Pendemo saat itu mengeluhkan soal pencemaran lingkungan, bau tak sedap, dampak ke Danau Toba, hingga soal potongan.
“Jadi anda bayangin tahun 2001 saja rakyat itu sudah paham mengenai lingkungan,” ucap Luhut.
Minta Ditutup
Setelah berdialog dengan warga, Luhut mengusulkan kepada Gus Dur agar Indorayon ditutup.
Usulan muncul saat kondisi ekonomi sedang sulit sehingga perusahaan sempat tutup sementara.
Namun, kata Luhut, Indorayon kemudian kembali beroperasi setelah melakukan negosiasi yang luar biasa.
“Zaman itu sebenarnya kerusakan yang paling besar hutan di Tapanuli adalah karena TPL ini, Indorayon ini,” kata Luhut.
Kini, Luhut kembali merekomendasikan kepada Presiden Prabowo Subianto agar TPL ditutup.
Menurut dia, hal itu juga berkaitan dengan keinginan Prabowo menjadikan Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, sebagai pusat industri sekuensing genom dan pembibitan untuk hortikultura.
"Jadi, menurut saya tidak ada gunanya lagi Toba Pulp di situ. Toba Pulp itu sudah cukup. Itu kan sudah enggak benar," ujar Luhut








