kabarterkinionline.com
Pemkot Palembang normalisasi 114 sungai di kawasan permukiman..Pemerintah Kota Palembang, Sumatera Selatan memprogramkan normalisasi 114 anak Sungai Musi yang menghubungkan antarpermukiman penduduk sebagai upaya pelestarian lingkungan dan mengantisipasi banjir yang kerap terjadi pada musim hujan.
“Program normalisasi itu sesuai masukan aktivis lingkungan dan pelaku seni budaya yang menyatakan pentingnya sungai tersebut sebagai bagian dari sejarah, identitas, dan warisan budaya kota ini,” kata Wali Kota Ratu Dewa di Palembang, Senin.
Dia menjelaskan, anak Sungai Musi yang ada di sekitar kawasan permukiman penduduk sekarang ini banyak yang mengalami pendangkalan dan penyempitan alur akibat sedimentasi dan bangunan liar.
Melalui program normalisasi diharapkan dalam beberapa tahun ke depan anak sungai yang mengalami masalah tersebut dapat berfungsi secara alami kembali dan bisa dimanfaatkan warga kota ini seperti dahulu kala.
Anak sungai yang ada di sekitar kawasan permukiman penduduk, dahulunya bisa menjadi sarana transportasi dan perdagangan dengan akses utama Sungai Musi menghubungkan berbagai kawasan, kini sebagian besar beralih menggunakan jalur darat.
Jika program normalisasi 114 anak sungai tersebut berjalan dengan baik sesuai rencana, diharapkan aktivitas warga bisa kembali lagi memanfaatkan jalur sungai dan mengurangi kemacetan arus lalu lintas di darat, serta bisa mencegah terjadinya banjir, ujar Wali Kota Ratu Dewa.
Sebelumnya Ketua Kawal Lingkungan Hidup Indonesia Lestari (KAWALI) Sumsel Chandra Anugrah Surya mengatakan, untuk mendukung program itu pihaknya berupaya memperkuat pemahaman masyarakat tentang peran sungai dalam perjalanan sejarah dan pembentukan identitas Kota Palembang.
Zaman dahulu, jaringan 114 anak Sungai Musi menjadikan Kota Palembang dijuluki sebagai “Venesia dari Timur” karena perannya yang sangat vital bagi kehidupan warga setempat.
Peran utama anak-anak sungai tersebut sebagai urat nadi transportasi yakni menjadi jalur penghubung utama bagi perahu dan sampan untuk masuk ke perkampungan dari Sungai Musi.
Sebagai pusat perdagangan dan perekonomian yakni tempat berlangsungnya aktivitas jual-beli, termasuk pedagang keliling yang mendatangi rumah-rumah penduduk menggunakan perahu.
Sumber kehidupan sehari-hari seperti sumber air bersih untuk kebutuhan mandi, mencuci, serta mencari ikan bagi warga yang bermukim di tepian.
Identitas budaya dan toponimi karena nama-nama anak sungai seperti di wilayah Seberang Ulu maupun Ilir, mencatat sejarah sosial, adat, serta awal mula tumbuhnya permukiman sejak era Kesultanan Palembang Darussalam.
Pengatur tata air kota karena berfungsi sebagai sistem drainase alami yang mengalirkan air pasang surut serta mencegah genangan di daratan, jelas Chandra.








