Kabarterkinionline.com
Merebaknya kasus korupsi perbankan di Bank Sumsel Babel terkait pemberian pasilitas kredit KUR di beberapa cabang Bank Sumsel Babel mengindikasikan kinerja buruk manajemen Bank Sumsel Babel,. Demikian ditegaskan, Wakil K MAKI Fery Kurniawan (01/4/2026) kepada wartawan.
KUR Semendo dan KUR OKUT merebak dengan kerugian negara puluhan miliar belum lagi kasus korupsi perbankan Bank Sumsel Babel di kepulauan Bangka Belitung dengan kerugian puluhan miliar rupiah.
Manajemen buruk merupakan momok kehancuran Bank Daerah karena orang – orang yang di tunjuk menjadi pengurus Bank diduga bukan dari kalangan profesional tapi merupakan orang dekat Kepala Daerah, katanya.
Dikatakan, Capital Adequacy Ratio (CAR) atau Rasio Kecukupan Modal adalah indikator kesehatan bank yang mengukur kemampuan modal sendiri dalam menutup risiko kerugian dari aset (kredit/investasi) harusnya menjadi perhatian serius pemegang saham karena hidup mati Bank Daerah tergantung besaran saldo APBD.
Risiko perbankan akibat berbagai aktivitas bisnis Bank berdasarkan POJK terdiri dari Risiko Kredit, Pasar, Likuiditas, Operasional, Hukum, Kepatuhan, Stratejik, dan Reputasi.
Lebih lanjut dikatakan, kegagalan kredit muncul dari kegagalan bayar debitur, kegagalan pasar, kegagalan sistem/internal, atau pelanggaran regulasi dan semua ini tergantung dari kemampuan manajerial manajer Bank.
Manajemen yang kurang profesional merupakan faktor utama kridit macet dan korupsi perbankan selain niat buruk mencari keuntungan dari pemberian pasilitas kridit.
Bank Sumsel Babel terkesan atau terlihat sangat bergantung dengan saldo besaran APBD Pemerintah Daerah untuk kecukupan modal sementara berorientasi bisnis Bank diduga terkendala kridit kemacetan yang terjadi di cabang – cabang Bank Sumsel Babel, tandas Fery.








