Kabarterkinionline.com
Pertamax Turbo hingga Dexlite Naik Harga BBM di Palembang Tembus Rp24 Ribu per Liter.Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali jadi perbincangan hangat di Palembang, Sumatera Selatan. Kali ini, lonjakannya bukan sekadar angka, tapi mulai terasa langsung di kantong masyarakat.
Beberapa jenis BBM non-subsidi bahkan sudah menembus level psikologis Rp24 ribu per liter. Lalu bagaimana dengan daftar harga BBM teraru di Palembang? Angka yang bagi sebagian warga dianggap “tidak lagi wajar”.
Terutama untuk pengguna kendaraan diesel dan mobil dengan spesifikasi bahan bakar tinggi, biaya isi ulang kini melonjak signifikan dibanding bulan sebelumnya.
Berdasarkan pembaruan terbaru, berikut harga BBM non-subsidi yang berlaku:
- Pertamax Turbo: sekitar Rp19.850 per liter
- Dexlite: sekitar Rp24.150 per liter
- Pertamina Dex : sekitar Rp24.450 per liter
Kenaikan ini merupakan kelanjutan dari penyesuaian harga sejak pertengahan April 2026. Namun, dampaknya baru benar-benar terasa di awal Mei, ketika aktivitas masyarakat kembali normal usai Lebaran.
Kenaikan harga ini bukan sekadar angka di papan SPBU. Bagi pengguna kendaraan harian, selisih harga bisa berarti tambahan pengeluaran puluhan ribu rupiah setiap kali mengisi bahan bakar.
Jika dihitung dalam sebulan, beban tersebut bisa membengkak cukup signifikan—terutama bagi pekerja yang mobilitasnya tinggi.
Yang lebih dikhawatirkan, kenaikan BBM tidak berhenti di sektor transportasi. Efek domino mulai mengintai:
- Ongkos angkut barang berpotensi naik
- Biaya logistik meningkat
- Harga kebutuhan pokok bisa ikut terdorong
Penyesuaian harga BBM non-subsidi umumnya dipengaruhi beberapa faktor utama:
- Pergerakan harga minyak dunia
- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
- Biaya distribusi dan operasional
Ketika faktor-faktor tersebut naik, harga BBM ikut terdorong.
Dan sebaliknya, penurunan juga sangat bergantung pada kondisi global. Apakah Harga Masih Bisa Berubah?
Jawabannya: sangat mungkin.
Harga BBM non-subsidi bersifat fluktuatif dan dapat berubah mengikuti dinamika pasar energi global. Artinya, angka Rp24 ribu per liter saat ini belum tentu menjadi batas tertinggi.






