Kabarterkinionline.com
Puluhan Hektare Gagal Panen ,Banjir Terjang Sumatera Selatan, 6.428 Hektare Sawah Terdampak. Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Sumatera Selatan dalam beberapa waktu terakhir memberikan dampak serius terhadap sektor pertanian, khususnya lahan persawahan. Curah hujan tinggi yang terjadi hampir merata di berbagai daerah menyebabkan sungai-sungai meluap dan menggenangi area pertanian yang selama ini menjadi tulang punggung ketahanan pangan daerah.
Berdasarkan data yang dihimpun dari sumber resmi, **sekitar 6.428 hektare lahan sawah di Sumatera Selatan tercatat terdampak banjir**. Wilayah yang mengalami genangan tersebar di sejumlah kabupaten dan kota, di antaranya Ogan Komering Ilir (OKI), OKU Timur, Banyuasin, Lahat, Muara Enim, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Musi Rawas Utara (Muratara), hingga Kota Palembang.
Meski luasan sawah yang terdampak tergolong besar, pemerintah memastikan bahwa lahan yang benar-benar mengalami gagal panen atau puso relatif kecil.
Dari total 6.428 hektare sawah yang terdampak banjir tersebut, sekitar 0,5 persen atau kurang lebih 32 hektare dinyatakan gagal panen akibat kerusakan tanaman padi yang tidak dapat diselamatkan.
Dinas pertanian setempat menjelaskan bahwa sebagian besar tanaman padi yang terendam banjir masih berada pada fase awal pertumbuhan. Dengan kondisi tersebut, tanaman masih memiliki peluang untuk pulih apabila genangan air dapat segera surut dan tidak berlangsung terlalu lama.
Namun, pada beberapa lokasi, genangan air bertahan hingga berhari-hari sehingga menyebabkan tanaman padi membusuk dan mati.
Salah satu wilayah yang terdampak cukup signifikan adalah Kabupaten OKU Timur, khususnya kawasan Belitang dan sekitarnya yang dikenal sebagai salah satu lumbung padi di Sumatera Selatan. Di wilayah ini, hamparan sawah yang baru ditanami terendam air akibat meluapnya saluran irigasi dan sungai.
Meski belum ada data terpisah secara rinci mengenai luasan puso khusus di Belitang, laporan lapangan menunjukkan sebagian besar sawah di kawasan tersebut sempat terendam banjir.
Para petani mengaku cemas akan nasib tanaman padi mereka. “Kalau air cepat surut, masih bisa diselamatkan. Tapi kalau terlalu lama, padi bisa mati dan kami terpaksa tanam ulang,” ujar seorang petani di wilayah Belitang.
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menyatakan terus melakukan pemantauan dan pendataan lanjutan di lapangan. Langkah-langkah antisipasi juga disiapkan, mulai dari pendampingan petani oleh penyuluh pertanian, penilaian tingkat kerusakan tanaman, hingga rencana pemberian bantuan benih bagi petani yang mengalami gagal panen.
aman. Luas lahan yang mengalami puso dinilai tidak signifikan dibandingkan total luas tanam padi di Sumsel yang mencapai ratusan ribu hektare setiap musim tanam.
“Dari ribuan hektare sawah yang terdampak banjir, hanya sebagian kecil yang benar-benar puso. Produksi padi Sumsel masih dapat terjaga,” ujar pejabat pertanian setempat.
Namun, banjir ini menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Perubahan iklim, tingginya intensitas curah hujan, pendangkalan sungai, serta sistem drainase dan irigasi yang belum optimal dinilai menjadi faktor utama terjadinya banjir di kawasan pertanian.
Pemerintah daerah didorong untuk memperkuat langkah mitigasi, seperti normalisasi sungai dan saluran irigasi, perbaikan infrastruktur pertanian, serta pengembangan sistem pertanian yang lebih adaptif terhadap cuaca ekstrem. Upaya ini dinilai penting agar kejadian serupa tidak terus berulang dan merugikan petani.
Bagi petani, banjir bukan hanya soal kerusakan tanaman, tetapi juga menyangkut keberlangsungan ekonomi keluarga. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, penyuluh pertanian, dan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga ketahanan pangan Sumatera Selatan di tengah tantangan alam yang kian tidak menentu.










