kabarterkinionline.com
Wali Kota Palembang Ratu Dewa Berang, Perintahkan Satpol PP dan Dishub Tangkap Pemalak di BKB. Wali Kota Palembang Ratu Dewa dengan keras perintahkan Satpol PP dan Dishub Kota Palembang segera tangkap pemalak yang pungli di BKB, Minggu 27 Juli 2025.
”Saya perintahkan sekarang juga, Satpol PP dan Dishub untuk tangkap para preman dan pemalak yang bekeliaran di BKB,” ujar Ratu Dewa.
Menurut Ratu Dewa, tindakan pemalakan ataupun pungli di kawasan wisata Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang tidak dibenarkan.
”Pemkot Palembang sudah menegaskan jika aksi palak, pungli dan parkir liar di BKB terjadi maka tindakan tegas kita ambil.”
Ini demi menjaga nama baik kota Palembang yang akan menuju sebagai kota destinasi wisata.
Sehingga pengunjung yang datang ke BKB Palembang merasakan keamanan dan kenyamanan.
Menurut Ratu Dewa, ketika mendapat laporan insiden tersebut, pelaku pungli sudah ditelusuri keberadaannya.
”Saya tidak mau lagi mendengar perbuatan yang memalukan itu.”
Kedepan, Ratu Dewa meminta OPD terkait menjajaki kerjasama dengan Polrestabes Palembang.
Sehingga insiden tersebut tidak berulang lagi.
Seperti diketahui, Palembang viral dengan adanya kejadian yang tak mengenakkan dialami oleh influencer otomotif kondang, Om Motomobi, saat tengah merekam konten review mobil di kawasan wisata ikonik Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang, Minggu, 27 Juli 2025.
Momen tersebut terekam secara tidak sengaja dalam video yang diunggah oleh akun media sosial lokal, @oypalembang, dan langsung menyita perhatian publik.
Dalam video berdurasi singkat itu, terlihat Om Motomobi tengah duduk di balik kemudi sambil menjelaskan spesifikasi mobil yang sedang ia ulas.
Namun di tengah pengambilan gambar, seorang pria yang diduga merupakan juru parkir liar tiba-tiba menghampiri dan meminta uang parkir sebesar Rp5.000.
Ironisnya, permintaan itu tetap dilayangkan meskipun Om Motomobi telah membayar retribusi parkir secara resmi kepada petugas parkir dari pengelola yang sah.
“Tapi parkiran di depan itu sudah saya bayar, lho,” ujar Om Motomobi heran.
Namun oknum jukir tersebut tetap ngotot, menjawab santai, “Oh kamu kamu sudah bayar disitu, pribadi kamu ajalah”.
Sikap tidak profesional dan terkesan memaksa dari juru parkir liar ini membuat Om Motomobi bingung sekaligus geram. Dalam video, ia menanggapi dengan nada kecewa.
“Ya inilah, di Indonesia begini ya, cuma lapangan pekerjaan itu buat mereka doang.”
Kejadian ini sontak menuai reaksi keras dari warganet. Dalam kolom komentar unggahan video tersebut, berbagai tanggapan bernada kecaman hingga curhatan pengalaman serupa pun membanjiri.
Beberapa komentar warganet bahkan menyebut bahwa kejadian semacam ini bukan hal baru di kawasan BKB Palembang.
“Bang, itu mah udah biasa. Tiap ke sana pasti double bayar,” tulis akun @anakpkl.
“Heran deh, udah bayar ke jukir resmi, eh disamperin lagi. Pemerintah mana sih?” tambah @dinda_pgi.
“Kemarin aku juga gitu, cuma parkir 10 menit langsung dipalak. Gak enak banget bawa keluarga,” ungkap @fahrulrs.
“Preman berkedok jukir. BKB tuh katanya ikon wisata, tapi pengelolaan amburadul,” sindir akun @martin_jr88.
Tak sedikit pula netizen yang meminta pemerintah kota Palembang untuk segera menindaklanjuti kasus ini dan melakukan penertiban menyeluruh terhadap keberadaan juru parkir liar di kawasan wisata tersebut.
Kasus ini menjadi cermin nyata persoalan klasik yang hingga kini belum juga terselesaikan di berbagai tempat wisata di Indonesia: keberadaan oknum juru parkir liar yang meresahkan pengunjung.
Padahal, kawasan BKB Palembang merupakan salah satu ikon wisata andalan yang semestinya memberikan kenyamanan bagi wisatawan, termasuk para konten kreator seperti Om Motomobi.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak berwenang terkait kejadian tersebut.
Namun masyarakat berharap, insiden ini menjadi momentum untuk memperbaiki sistem perparkiran, khususnya di area wisata publik.
Apalagi saat ini, peran media sosial sangat berpengaruh dalam membentuk citra sebuah kota.
Jika ketidaknyamanan seperti ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin akan berdampak buruk bagi pariwisata lokal.






