Kabarterkinionline.com
Perkuat SDM dan Budidaya Terbaik, PSR Sumsel Tancap Gas. Isu itu mengemuka dalam Sesi III Workshop Peremajaan Sawit Rakyat dan Pekan Benih Sawit 2026 bertajuk “Kesiapan SDM dalam Program PSR dan Penggunaan Benih Sawit Unggul” yang diselenggarakan di Palembang, Sumsel, Jumat (13 Februari 2026).
Acara yang diselenggarakan Majalah Sawit Indonesia dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) itu menghadirkan narsumber yakni Kepala Bidang Produksi Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, Havizman, Wakil Rektor II Universitas Sumatera Selatan (USS), Rabin Ibnu Zainal dan Ketua Umum DPW APKASINDO M. Yunus .Avizman memaparkan bahwa struktur perkebunan sawit di Sumsel masih didominasi rakyat.
“Sebanyak 44 persen areal sawit di Sumsel merupakan perkebunan rakyat, baik plasma maupun swadaya. Saat ini ada 276 perusahaan sawit dengan total luas lahan mencapai 1,245 juta hektare. Kita juga memiliki 109 unit pabrik kelapa sawit dengan kapasitas olah 4.815 ton,” ujarnya.
Menurut dia, pemerintah terus mendorong penguatan sektor sawit melalui sejumlah program strategis. PSR menjadi program yang paling tinggi responsnya dari masyarakat. Selain itu, dukungan sarana dan prasarana juga mulai banyak dimanfaatkan petani.
“Ketiga, pengembangan SDM terus kami dorong melalui pelatihan petani dan pemberian beasiswa bagi keluarga pekebun. Namun, penelitian dan pengembangan belum optimal memanfaatkan dana BPDP. Mungkin USS bisa memperoleh ide untuk diusulkan demi kemajuan masyarakat,” katanya.
Realisasi PSR Capai 66 Ribu Hektare, OKI dan Muba Terdepan
Terkait capaian PSR, Havizman menyebut total rekomendasi teknis (rekomtek) di Sumsel mencapai 75.016 hektare. Dari angka tersebut, sekitar 1.884 hektare mengundurkan diri karena persoalan HGU dan kendala lain.
“Data kami menunjukkan aktivitas chipping sudah sekitar 67 ribu hektare, realisasi tanam 66 ribu hektare, dan sekitar 1.300 hektare belum tertanam. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi yang terluas capaiannya, disusul Musi Banyuasin. Kami berharap daerah lain segera menyusul,” ujarnya.
Sebanyak 30.882 pekebun di Sumsel telah menerima pendanaan PSR. Dari sisi produktivitas, ia menjelaskan bahwa potensi genetik tanaman bisa mencapai 15,6 ton per hektare per tahun. Namun, capaian aktual berbeda di setiap daerah.
“Di OKI, produksi aktual mencapai 13,4 ton per hektare per tahun atau sekitar 87 persen dari potensi genetik. Ini sudah cukup baik karena ada faktor iklim dan faktor teknis lain yang memengaruhi,” jelasnya.
Ia juga mencontohkan hasil pengamatan di Musi Banyuasin. “Pada tanaman menghasilkan (TM) 1 dengan benih BLRS, potensi genetik bisa 16 ton per hektare per tahun. Namun, di TM 1 baru sekitar 65 persen karena dihitung hanya tujuh bulan produksi. Di TM 2 bahkan bisa mencapai 25,3 ton per hektare per tahun,” katanya.
Strategi Tumpangsari-Diversifikasi untuk Kurangi Stigma Sawit
Sementara itu, Ketua DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Sumatera Selatan, M. Yunus, berbagi pengalaman beralih dari komoditas lain ke sawit. Ia mengaku pernah gagal saat mencoba bertani singkong di Lampung.
“Saya sebelumnya bekerja profesional. Setelah berhenti, saya punya sedikit modal lalu beli lahan dan tanam singkong di Lampung. Ternyata gagal. Kalau harga diserahkan sepenuhnya ke pasar tanpa campur tangan, petani sering kalah. Akhirnya saya tinggalkan dan fokus ke sawit sejak empat tahun lalu,” tuturnya.
Ia kemudian mengembangkan pola tumpangsari dengan pisang barangan di lahan sawit muda. Menurutnya, strategi ini mampu menjaga arus kas sebelum sawit memasuki masa panen.
“Saya mencoba tanam pisang barangan. Alhamdulillah, 6-10 bulan sudah berbuah, dan 12-20 bulan bisa panen jika unsur hara dan pupuknya bagus. Memang tidak sebagus monokultur, tetapi tumbuhnya seragam dan tidak mengganggu sawit. Sawit mulai berbuah 14 bulan, umur 30 bulan panen 4,9 kilogram TBS. Sekarang sudah umur 36 bulan,” katanya.
Ia menyebut pada siklus pertama, pendapatan pisang bisa mencapai Rp16 juta per hektare. “Siklus kedua sampai kelima tidak perlu beli bibit lagi. Jadi sebelum sawit panen, kita sudah punya pemasukan. Bahkan bibit pisangnya bisa dijual ke petani lain,” ujarnya.
Yunus juga mendorong diversifikasi tanaman untuk mengurangi stigma terhadap sawit, terutama di kawasan yang bermasalah secara legal.
“Kalau ada persoalan kawasan hutan dan sawit tidak boleh ditanam, kita bisa integrasikan dengan tanaman lain seperti mahoni atau jati. Di Riau ada petani sawit yang menanam mahoni sehingga terlihat seperti hutan. Sawit ini selalu tertuduh, jadi kita harus punya ide agar bisa diintegrasikan dengan komoditas lain,” katanya.
Sumsel Didorong Jadi Pusat Pembelajaran Sawit
Dari sisi pendidikan, Wakil Rektor II Universitas Sumatera Selatan (USS), Rabin Ibnu Zainal, menyatakan kampusnya tengah mengajukan diri sebagai mitra BPDP untuk program beasiswa sawit.
“Kami baru mengusulkan menjadi mitra BPDP bulan lalu. Informasi yang kami terima, Sumsel belum memiliki kampus mitra untuk program beasiswa sawit. Ini memotivasi kami agar anak-anak Sumsel bisa belajar dan mengembangkan sawit di daerah sendiri,” ujarnya.
USS berdiri sejak 2019 atas gagasan almarhum Prof. Dr. Mahyuddin yang ingin membuka akses pendidikan murah, bahkan gratis, bagi masyarakat kurang mampu. Saat ini USS memiliki lima program studi, termasuk agribisnis dan perikanan.
“Program agribisnis memang kami arahkan untuk mendukung pengembangan sektor sawit. Kami sudah menyiapkan dosen bersertifikasi dan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan di Sumsel. Kami juga menyiapkan lahan 15 hektare untuk penangkaran benih sawit rakyat,” kata Rabin.
Ia menilai Sumsel seharusnya menjadi pusat pembelajaran sawit nasional karena luas arealnya yang besar. “Selama ini kalau ingin belajar sawit, mahasiswa harus ke Yogyakarta atau Riau. Padahal Sumsel salah satu penyumbang sawit terbesar. Mengapa tidak kita jadikan Sumsel sebagai arena belajar sawit?” ujarnya.







