kabarterkinionline.com
Bahas Kematian 5 Calon Manajer Kopdes DPR Panggil Wamenhan DPR Panggil Wamenhan. Komisi I DPR memanggil Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Marsekal TNI (HOR) Donny Ermawan Taufanto, dan sejumlah jenderal TNI aktif lainnya imbas kematian lima calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pada saat mengikuti latihan dasar militer (latsarmil). “Baru saja Komisi I melakukan rapat kerja dengan Kementerian Pertahanan yang dipimpin oleh Bapak Wamenhan. Bapak Wamenhan supaya dikenal semua, Bapak Donny Ermawan.
Beliau adalah Marsekal bintang empat, purnawirawan. Hadir pula Pak Sekjen (Kemenhan) Pak Tri Budi Utomo, kemudian Pak Gabriel Lema, Letnan Jenderal, dan Kepala BPSDM, yaitu Bapak Mayor Jenderal Ketut Wisnu,” ujar Ketua Komisi I DPR, Utut Adianto, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (1/7/2026). Baca juga: Pelatihan Manajer Kopdes Berubah: Istilah Latsarmil Diganti, Tidak Lagi Angkat Senjata Utut menyampaikan, dari pihak Komisi I DPR, semua fraksi
Utut menyampaikan, dari pihak Komisi I DPR, semua fraksi hadir. Utut menyebut para wakil rakyat menanyakan perihal kejadian meninggalnya lima calon manajer Kopdes.
“Kita semua menanyakan perihal kejadian, di mana ada lima calon pengurus Koperasi Desa Merah Putih yang wafat,” jelasnya.
Utut pun mengucapkan duka cita yang mendalam atas kematian lima orang tersebut. Dia mendesak pemerintah memberi santunan yang sangat baik kepada keluarga korban, bukan hanya pantas. “Ada Pak Wamenhan untuk menyampaikan poin-poinnya, yang jelas teman-teman juga akan memperbaiki lapangan atas kejadian ini,” kata Utut.
Sementara itu, Wamenhan Donny mengatakan, di dalam rapat, pihaknya menjelaskan kepada anggota DPR bahwa mereka berduka sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Donny mengklaim Kemenhan tidak mengharapkan kejadian ini terjadi.
“Sehingga kami mengharapkan ini bisa juga menjadikan pelajaran bagi kami juga terkait dengan penyelenggaraan kegiatan ini,” kata Donny. “Dan kami juga sudah memberikan santunan ataupun perawatan dukungan terhadap, pertama, pemulangan jenazah, pemakaman, juga santunan yang diberikan dari Kementerian Pertahanan dan juga kami membantu juga untuk pengurusan proses santunan dari BPJS Ketenagakerjaan yang ini masih dalam proses,” imbuhnya.
Kronologi 5 calon manajer kopdes meninggal Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemenhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan menjelaskan kronologi meninggalnya lima calon manajer Kopdes Merah Putih. Pertama, Nola Dya Sari, peserta dari Satuan Pendidikan (Satdik) Dodik Bela Negara Kalimantan, yang meninggal pada Jumat (26/6/2026).
Namun sekitar pukul 18.45 WIB, Nola mulai mengeluhkan sesak nafas yang disertai badan terasa panas.
Tim kesehatan satuan pendidikan kemudian segera memberikan penanganan awal sebelum merujuk Nola ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Singkawang.
Kemudian, Anisa Muyassaroh yang mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan (Satdik) Dodikjur Resimen Induk Daerah Militer (Rindam) VI/Mulawarman, Balikpapan. Anisa Muyassaroh mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026 dan meninggal dunia akibat heath stroke serta henti jantung.
Lalu, Yonanda Muhammad Taufiq yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusat Pendidikan dan Latihan Tempur (Puslatpur) Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Darat (Kodiklatad), Baturaja.
Yonanda disebut mengalami penurunan kondisi kesehatan pada 17 Juni 2026 pukul 17.17 WIB, sebelum dirujuk ke rumah sakit dan akhirnya meninggal dunia.
Keempat, ada Novia Rahmadhani Sihotang, peserta yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta.
Novia mengalami gangguan kesehatan pada 22 Juni 2026 dan langsung mendapat penanganan dari tim kesehatan satuan. Karena kondisinya terus memburuk, Novia kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) dr. Esnawan Antariksa untuk menjalani perawatan lebih lanjut, kemudian meninggal dunia.
Terakhir, ada Muhammad Rifki Renaldi Gunawan yang mengikuti pendidikan di Satdik Yon Parako 465. Pada 25 Juni 2026 pukul 14.30 WIB, Rifki mengeluhkan sesak napas dan langsung mendapat penanganan awal dari tim kesehatan satuan. Setelah kondisinya membaik, ia sempat kembali mengikuti kegiatan.
Namun pada sore hari, kondisi kesehatannya kembali menurun sehingga segera dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa untuk memperoleh penanganan medis lanjutan. Di rumah sakit, Rifki menjalani perawatan intensif, termasuk di ruang Intensive Care Unit (ICU). Meski telah mendapatkan penanganan maksimal dari tim dokter, ia dinyatakan meninggal dunia pada 26 Juni 2026 pukul 00.28 WIB.












