Kabut Asap Palembang Mulai Menipis, Polusi Udara Turun Signifikan

kabarterkinionline.com

Kabut Asap Palembang Mulai Menipis, Polusi Udara Turun Signifikan, Palembang: Kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, mulai menipis seiring pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Danrem 044/Garuda Dempo, Brigjen TNI Khabib Mahfud menyebut operasi tersebut telah memicu hujan di sejumlah wilayah dan diikuti penurunan angka polusi udara.

“Alhamdulillah, untuk operasi modifikasi cuaca , baik itu dry ice maupun kemarin penaburan NaCl, alhamdulillah berhasil. Kemarin sudah ada hujan di beberapa tempat, di Musi Banyuasin termasuk di Palembang ini,” kata Khabib dalam tayangan Breaking News , Metro TV , Minggu, 25 Oktober 2026.

Berdasarkan indikator Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), angka PM2.5 yang sebelumnya juga berada di kisaran 600 kini turun menjadi sekitar 300. Penurunan menunjukkan penurunan tingkat tersebut polusi udara secara signifikan.

“Kalau kita lihat dari indikator ISPU, bahwa biasanya PM2.5 itu sekitar 600, saat ini tinggal 300. Artinya terjadi penurunan signifikan pencemaran udara hampir setengah kali lipatnya,” ujarnya.

Untuk mendukung operasi modifikasi cuaca, petugas telah menggunakan sekitar 2,4 ton es kering dan hampir 10 ton natrium klorida (NaCl) atau garam. Operasi juga dilaksanakan dalam tiga jenis penerbangan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan.

Khabib berharap upaya tersebut dapat membantu menekan titik api dan memperbaiki kondisi udara di Sumatera Selatan. Operasi modifikasi cuaca yang direncanakan berlanjut hingga hujan alami diperkirakan mulai turun pada dasarian kedua November.

Meski kondisi udara mulai membaik, penanganan karhutla masih terus dilakukan. Terdapat delapan titik kebakaran yang masih menjadi perhatian, dengan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) sebagai salah satu wilayah prioritas.

“Khusus di OKI memang kita perlu ekstra. Seperti yang saya sampaikan, kita fokus penanganan saat ini di Kabupaten OKI karena di Kabupaten OKI ini yang terlama untuk menerima hujan yang alami. Mungkin hampir 160 hari di wilayah Kabupaten OKI rata-rata tidak pernah hujan pada musim EI Nino ini,” jelas Khabib.

Untuk mempercepat penanganan, personel Satgas darat, TNI, Polri, serta tim pemadam kebakaran terus dikerahkan. Operasi pemadaman melalui udara atau water bombing juga dilakukan sebagai bagian dari upaya menekan penyebaran titik api.

Khabib mengatakan peralatan pemadam dan sumber daya yang diperoleh dari Kementerian Pertahanan serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga difokuskan ke OKI. Penanganan diprioritaskan di sejumlah wilayah, termasuk Cengal, Pangkalan Lampam, dan Tulung Selapan.

Selain operasi pemadaman, pemerintah juga mengintensifkan sosialisasi kepada masyarakat agar ikut menjaga lahan, kebun, dan hutan di wilayah masing-masing. Keterlibatan warga dinilai penting untuk mencegah munculnya titik api baru, mengingat luasnya wilayah yang harus ditangani petugas.

“Harapannya ada kepedulian masyarakat mulai dari awal itu juga membantu untuk menurunkan titik api secara maksimal. Kalau kita mengandalkan hanya dari satgas yang saat ini dibentuk, dengan wilayah Kabupaten OKI yang sangat luas, saya kira kita juga mungkin terbatas,” harapnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru