kabarterkinionline.com
Pemkot Palembang mulai gelar pembelajaran tatap muka di sekolah. Sejumlah sekolah di Kota Palembang, Sumatera Selatan, mulai kembali menerapkan pembelajaran tatap muka meski kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih memenuhi wilayah tersebut.
Kondisi ini menjadi perhatian karena kualitas udara masih berada pada kategori berbahaya. Berdasarkan pemantauan IQAir pada Selasa (20/10) pukul 06.00 WIB, indeks kualitas udara di Palembang tercatat mencapai 445. Angka tersebut menunjukkan kondisi udara yang sangat buruk dan berisiko bagi kesehatan.
Dari pantauan di lapangan, sejumlah sekolah mulai menggelar kegiatan belajar mengajar sejak Senin (19/10), setelah hampir satu bulan siswa mulai dari jenjang taman kanak-kanak (TK) hingga perguruan tinggi menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat kabut asap.
Kembalinya pembelajaran tatap muka di tengah kondisi udara yang belum sepenuhnya pulih menimbulkan kekhawatiran terhadap risiko paparan polusi, terutama bagi anak-anak.
Meski secara kasatmata kabut asap mulai menipis, bau menyengat masih tercium ketika masyarakat beraktivitas di luar ruangan. Pada waktu-waktu tertentu, kabut asap juga masih terlihat menebal.
Untuk mengurangi paparan secepatnya, pihak sekolah menerapkan sejumlah langkah pencegahan. Siswa diwajibkan mengenakan masker, sementara aktivitas di luar ruangan dibatasi. Setibanya di sekolah, siswa juga diarahkan langsung masuk ke kelas.
Jam belajar pun disesuaikan, yakni mulai pukul 08.00 WIB hingga 12.30 WIB. Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di sejumlah wilayah Sumatera Selatan, antara lain Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir, Banyuasin, serta beberapa titik di Kota Palembang. Kondisi cuaca kering selama musim kemarau menjadi salah satu faktor yang mendukung terjadinya kebakaran
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan juga terus berupaya mengurangi dampak kabut asap, salah satunya melalui metode dry ice atau es kering. Namun, efektivitas metode tersebut dalam mengurai kabut asap masih perlu dipastikan melalui kajian ilmiah.
Kurangnya ketebalan asap pada waktu-waktu tertentu belum dapat langsung dikaitkan dengan penerapan metode tersebut. Perubahan arah angin dan kondisi cuaca juga dapat mempengaruhi persebaran secepatnya. Dengan demikian, meskipun kabut asap terlihat sedikit menipis, kualitas udara dan risiko paparan polutan tetap perlu menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka.
Berbeda dari pandangan pejabat daerah, Ketua APINDO Palembang, Gordon Butar Butar, menilai pelemahan rupiah memberi tekanan serius terhadap dunia usaha, terutama industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.
“Setiap kenaikan dolar pasti berdampak pada penyesuaian harga barang dan biaya produksi,” ujarnya.
Dia meminta pemerintah pusat maupun daerah segera mengambil langkah strategi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar pelaku usaha tak terbebani.
“Kami berharap pemerintah segera melakukan intervensi untuk mengatasi dampak pelemahan rupiah terhadap dunia usaha agar pelaku usaha tidak semakin terbebani,” katanya.






