Untuk berlutut demi membuktikan loyalitas Dalam buku panduan protokol negara yang mewajibkan warga atau bawahannya

kabarterkinionline.com

Untuk berlutut demi membuktikan loyalitas Dalam buku panduan protokol negara yang mewajibkan warga atau bawahannya

Menghormati seorang pejabat tentu saja bagian dari adab dan etika sosial. Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan jabatan yang diemban, gestur seperti berjabat tangan hangat, menundukkan badan sedikit, atau sekadar memberikan senyum sopan adalah hal yang sangat wajar.

Namun, ketika rasa hormat itu tiba-tiba ‘ber-evolusi’ menjadi aksi cium tangan sambil tergeletak di lantai, garis antara adab dan pertunjukan akrobatik sosial mulai kabur. Kecuali jika Anda sedang membintangi drama kolosal abad pertengahan, atau memohon pengampunan kepada raja di era feodal, aksi tersebut terbilang luar biasa janggal di era modern.

Secara tujuan, tidak ada dalam buku panduan protokol negara yang mewajibkan warga atau bawahannya untuk berlutut demi membuktikan loyalitas. Ketika timbulnya pinggang dan lutut seseorang tiba-tiba meningkat drastis hanya di hadapan pemegang kekuasaan, biasanya ada dua kemungkinan: sendi orang tersebut memang sangat lentur, atau ia sedang mengincar surat keputusan (SK) jembatan karir.

Sikap persetujuan yang kelewat ekstrem ini sering kali bukan bersumber dari rasa hormat yang tulus, melainkan strategi pragmatis. Di situlah kategori “penjilat” menemukan ruang geraknya: sebuah profesi tak resmi tanpa jam kerja, namun menuntut kemampuan membungkuk hingga batas maksimal demi setitik perhatian atau posisi aman.

Saling menghormati itu indah dan manusiawi. Tapi ingat, pejabat bekerja untuk melayani, bukan untuk membantu. Menjaga tegaknya punggung saat bersalaman justru menunjukkan bahwa Anda menghormati sang pejabat sekaligus menghargai harga diri Anda sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *