Masih Banyak Yang Terlilit Hutang , Adik Sanak Hapus Intsentif Rp 6 Juta Per Hari, Pemilik Dapur MBG

kabarterkinionline.com

Masih Banyak Yang Terlilit Hutang , Adik Sanak Hapus Intsentif Rp 6 Juta Per Hari, Pemilik Dapur MBG . Badan Gizi Nasional (BGN) berencana mengubah skema insentif Rp6 juta per hari yang selama ini diberikan dengan nominal yang sama kepada setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kepala BGN Sudaryono mengatakan aturan baru tengah menunggu terbitnya Peraturan Kepala Badan dan diumumkan diumumkan Jumat (4/9/2026) atau paling lambat Senin (7/9/2026). Menurutnya, pemberian nominal yang sama tidak adil karena kapasitas produksi setiap dapur berbeda. SPPG yang menghasilkan 2.000 porsi dan 3.000 porsi, misalnya sama-sama menerima Rp6 juta sehingga nilai insentif per porsinya menjadi berbeda.

Rencana perubahan skema itu muncul ketika sejumlah pemilik dan investor SPPG mengaku masih menghadapi tekanan keuangan setelah mengeluarkan modal ratusan juta hingga miliaran rupiah untuk membangun dapur MBG. Sebagian menggunakan pinjaman bank, utang kepada kerabat, maupun dana investor, sementara sejumlah dapur belum beroperasi karena menunggu verifikasi, penetapan mitra, atau terdampak moratorium pembukaan SPPG baru.

Mereka tetap harus menanggung cicilan, gaji karyawan, listrik, internet, sewa, hingga perawatan peralatan. Para mitra meminta BGN memberikan keamanan operasional dan mempercepat administrasi serta pembayaran. BGN sendiri menyatakan terus meluncurkan dan menata pelaksanaan MBG agar berbagai kendala tersebut dapat diselesaikan.

Badan Gizi Nasional (BGN) berencana mengubah skema insentif Rp6 juta per hari yang selama ini diberikan dengan nominal yang sama kepada setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala BGN Sudaryono mengatakan aturan baru tengah menunggu terbitnya Peraturan Kepala Badan dan diumumkan diumumkan Jumat (4/9/2026) atau paling lambat Senin (7/9/2026). Menurutnya, pemberian nominal yang sama tidak adil karena kapasitas produksi setiap dapur berbeda. SPPG yang menghasilkan 2.000 porsi dan 3.000 porsi, misalnya sama-sama menerima Rp6 juta sehingga nilai insentif per porsinya menjadi berbeda.

Rencana perubahan skema itu muncul ketika sejumlah pemilik dan investor SPPG mengaku masih menghadapi tekanan keuangan setelah mengeluarkan modal ratusan juta hingga miliaran rupiah untuk membangun dapur MBG.

Sebagian menggunakan pinjaman bank, utang kepada kerabat, maupun dana investor, sementara sejumlah dapur belum beroperasi karena menunggu verifikasi, penetapan mitra, atau terdampak moratorium pembukaan SPPG baru. Mereka tetap harus menanggung cicilan, gaji karyawan, listrik, internet, sewa, hingga perawatan peralatan.

Para mitra meminta BGN memberikan keamanan operasional dan mempercepat administrasi serta pembayaran. BGN sendiri menyatakan terus meluncurkan dan menata pelaksanaan MBG agar berbagai kendala tersebut dapat diselesaikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *